SATELITNEWS.ID, SERANG–Para pelaku seni ubrug di Kabupaten Serang, mencari formula untuk melestarikan ubrug agar tetap eksis, hingga tingkat global. Karena keberadaan kesenian tradisional tersebut, kini sudah semakin tergerus oleh perkembangan zaman modern.
Hal itu diungkapkan para pelaku kesenian ubrug, saat menggelar worksop festival dan nandong dalam seni pertunjukan ubrug, di gedung PKPRI Kecamatan Cikeusal, Rabu (29/9/2021).
Seorang pelaku seni ubrug yang juga Ketua Panitia Pelaksana Workshop Festival Nandong Dalam Seni Pertunjukan Ubrug, Opik mengatakan, kesenian ubrug sedianya memang harus fleksibel. Sehingga, bisa mengikuti perkembangan zaman. Karena keberadaannya sudah semakin tergerus oleh era modern ini.
“Jika ubrug bisa mengikuti zaman, saya yakin generasi muda akan tertarik. Kita harus membuka diri, bahwa zaman sekarang sudah maju,” kata Opik.
Katanya, saat ini pihaknya sedang mencari formula agar ubrug tetap eksis dan lestari. Salah satu formulanya, ubrug cukup bermain dalam waktu 30 menit atau 20 menit, dan kemudian menampilkan pertunjukan pertunjukan yang segar tanpa menghilangkan esensinya yaitu nandong.
“Keberadaan ubrug di Banten ini banyak. Tapi masih generasi tua yah, jadi perlu juga ada regenerasi muda. Kita rencana mau ke arah sana, anak-anak muda ya nari ya nandongnya,” tuturnya.
Baca Juga: 90 Desa di Lebak Berpotensi Mengalami Kekeringan
Bendahara Sanggar Giri Muda, yang juga pelaku seni ubrug, Giri Mustika Roemana mengatakan, saat ini pihaknya sedang berupaya untuk memperkenalkan seni ubrug hingga tingkat global. Dalam upayanya melestarikan kesenian ubrug. Pihaknya juga mendapat hibah, bantuan fasilitasi Bidang Kebudayaan dari Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbud RI.
“Jadi kami coba tawarkan proposal, Alhamdulillah kami direspon sangat baik. Kami diberi bantuan, sehingga kami bisa menyelengarakan worksop festival ini. Kita coba kenalkan ubrug ke masyarakat luas,” tuturnya.
Menurut Giri, masyarakat sebetulnya sudah banyak tahu soal ubrug. Namun bagi anak-anak sekarang cenderung kurang diminati. Karena para pelakunya masih bertahan dengan konsep masa silamnya.
“Tapi justru ini menjadi tantangan bagi kita, supaya yang asli dengan konsep gamelan dan penarinya, kita akan kenalkan dengan konsep kekinian. Kami optimis ubrug tetap eksis,” imbuhnya. (sidik)
