SATELITNEWS.COM, SERANG—Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi tiga wilayah pesisir di Provinsi Banten akan mengalami Potensi Banjir Pesisir (Rob). Oleh karena itu, masyarakat yang tinggal di pesisir dan bagi para nelayan dihimbau untuk tetap berhati-hati dan waspada terhadap fenomena tersebut.
Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG, Stasiun Meteorologi Maritim Kelas I Serang Tarjono saat dihubungi, Rabu (18/1/2023) mengatakan, rob itu terjadi merupakan adanya fenomena Super New Moon atau fase Bulan Baru yang bersamaan dengan Perigee (Jarak terdekat bulan ke bumi), sehingga berpotensi meningkatkan ketinggian pasang air laut maksimum.
“Itu siklus biasa, namun kita harus tetap waspada, apalagi saat ini cuaca di Banten masih terbilang belum stabil atau normal,” katanya.
Dikatakan Tarjono, Ada tiga fase bulan yang harus kita waspadai bersama, yakni pada fase bulan baru, bulan purnama dan gelap. “Itu berpotensi menimbulkan banjir pesisir,” katanya.
Berdasarkan pantauan data water level dan prediksi pasang surut, banjir pesisir (rob) berpotensi terjadi di beberapa wilayah pesisir Indonesia. Sedangkan untuk di Provinsi Banten terjadi di tiga wilayah pesisir yakni perairan utara Banten, barat dan selatan.
“Untuk ketinggian gelombangnya belum bisa kita prediksi, namun untuk waktu-waktunya sudah kita petakan berdasarkan analisa,” katanya.
Baca Juga: Imbas Anggaran Tersendat, Operasional 62 SPPG di Kabupaten Tangerang Distop Sementara
Untuk wilayah perairan utara Banten, Rob diprediksi akan terjadi dari tanggal 19-25 Januari 2023, wilayah perairan barat dari tanggal 20-25 Januari 2023 dan wilayah perairan selatan dari tanggal 19-25 Januari 2023.
Diakui Tarjono, kondisi rob yang akan terjadi itu tidak ada kaitannya dengan kondisi cuaca ekstrem yang diperkirakan berlangsung sampai bulan Februari 2023 untuk di wilayah Banten. Namun memang kondisi rob lebih meluas karena saat ini kondisi cuacanya belum stabil.
“Kecepatan anginnya masih tinggi. Tapi mudah-mudahan tidak dibarengi dengan cuaca ekstrem atau angin kencang sehingga tidak memperparah,” ujarnya.
Selain di Banten, potensi rob juga akan terjadi di Pesisir Aceh, Pesisir Sumatera Utara, Pesisir Sumatera Barat, Pesisir Lampung, Pesisir Kep. Riau, Pesisir Bangka Belitung, Pesisir utara DKI Jakarta, Pesisir Jawa Barat, Pesisir Jawa Tengah, Pesisir Jawa Timur, Pesisir Bali, Pesisir Nusa Tenggara Barat, Pesisir Nusa Tenggara Timur, Pesisir Kalimantan Barat, Pesisir Kalimantan Tengah, Pesisir Maluku Utara, Pesisir Maluku, Pesisir utara Papua dan Pesisir Papua Selatan.
Secara umum kondisi ini berdampak pada aktivitas masyarakat di sekitar pelabuhan dan pesisir, seperti aktivitas bongkar muat di pelabuhan, aktivitas di pemukiman pesisir, serta aktivitas tambak garam dan perikanan darat.
“Maka dari itu, masyarakat dihimbau untuk selalu waspada dan siaga untuk mengantisipasi dampak dari pasang maksimum air laut serta memperhatikan update informasi cuaca maritim dari BMKG,” ucapnya.
Baca Juga: Tiga Sekolah Negeri Baru di Banten Beroperasi Tahun Ini
Sebelum imbauan banjir rob, BMKG juga telah mengumumkan potensi cuaca ekstrem yang terjadi di Banten selama periode 9 Januari-15 Januari 2023 lalu. Kondisi itu juga berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologi berupa banjir, banjir bandang, hujan es, tanah longsor, angin kencang, hingga puting beliung.
Kepala Balai BMKG Wilayah II, Hendro Nugroho mengatakan, berdasarkan hasil analisis dinamika atmosfer, indeks ENSO di wilayah Nino 3.4 mendukung peningkatan hujan di wilayah Indonesia, suhu muka laut relatif hangat dengan nilai anomali berkisar antara +0.5 s/d +2.5 °C di wilayah Laut Jawa.
“Dapat meningkatkan potensi penguapan (penambahan massa uap air-red), serta kelembaban udara yang relatif cukup tinggi dan labilitas lokal yang cukup kuat turut berkontribusi terhadap pembentukan awan hujan di sebagian wilayah Indonesia, khususnya Banten,” katanya.
Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Provinsi Banten, Nana Suryana mengatakan, potensi cuaca ekstrem yang terjadi di Banten diprediksi akan berlangsung hingga Februari 2023 mendatang. Meski begitu pihaknya telah melakukan beberapa upaya salah satunya dengan proses Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) di yang dilakukan oleh BNPB, bersama BMKG, BRIN, dan TNI AU.
“Berdasarkan analisa BMKG, prakiraan cuaca beberapa daerah di Provinsi Banten sampai bulan Februari 2023 masih dalam kondisi hujan maksimum. Makanya Pak Gubernur juga sudah menandatangani surat permohonan TMC,” paparnya. (mg2/bnn)
