SATELITNEWS.COM, JAKARTA—Belakangan ini, bos-bos parpol mulai bolak-balik melakukan pertemuan. Sedangkan bakal capres mulai rajin sowan ke kiai di berbagai daerah. Ini jadi pertanda kalau hajatan pilpres sudah semakin dekat.
Para capres yang sowan ke ulama tentunya punya kepentingan macam-macam. Selain minta doa dan ngalap berkah dari ulama, para capres tentunya juga ingin meraih dukungan dari umat Islam yang jumlahnya sangat besar. Nggak heran, ketika memasuki masa Pilpres, para capres akan berlomba-lomba sowan ke ulama.
Ini juga yang dilakukan ketika bakal capres yang saat ini diprediksi akan bertarung di Pilpres 2024. Yakni Ganjar Pranowo, Prabowo Subianto dan Anies Baswedan. Belakangan ini, ketiganya mulai sering menyambangi kiai-kiai besar yang punya pengaruh di daerahnya.
Dimulai dari Ganjar. Dalam 2 hari ini, bakal capres yang diusung PDIP ini maraton menyambangi sejumlah ulama karismatik di daerah. Kemarin, Ganjar mendatangi kediaman KH Munif Muhammad Zuhri di kompleks Pondok Pesantren (Ponpes) Girikusumo, Desa Banyumeneng, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak.
Gubernur Jawa Tengah ini tiba sekitar pukul 12.50. Mengenakan batik lurik coklat dan blangkon. Melihat kedatangan Ganjar, para santri dan pelajar ponpes langsung berebut salaman. Setelah menyapa para jamaah dan santri, Ganjar kemudian langsung menuju ke kediaman Kyai Munif. Kedatangannya pun disambut hangat.
Ganjar mengatakan, pertemuan dengan Kyai Munif bukan yang pertama. Dan di dalam setiap pertemuan, selalu ada ide dan gagasan baru. Politisi berambut putih ini mengaku banyak mendapatkan ide dari Kiai Munif, terutama tentang bagaimana merawat bangsa bersama-sama. Khususnya bagaimana supaya anak-anak muda lebih mencintai bangsa dan negara.
“Anak-anak muda dan para pelajar ini kelak kemudian cintanya pada bangsa dan negara tidak pernah luntur, penghormatan kepada kyai dan ulama serta orangtua tidak luntur ya. Bangsa dan negaranya selalu melekat, hubbul wathon minal iman-nya ya ada di situ,” ungkap Ganjar.
Sebelum menemui Kyai Munif, Ganjar juga menyambangi ulama karismatik Kiai Mustofa Bisri atau Gus Mus di komplek Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Kabupaten Rembang pada Rabu (3/5/2023). Ganjar datang mengenakan kemeja batik dan peci hitam. Begitu disambut Gus Mus, Ganjar langsung mencium tangannya seraya menundukkan badan. Gus Mus kemudian merangkul Ganjar.
Keduanya lalu duduk bersila bersebelahan, sambil berbincang ditemani beberapa pengurus ponpes. Setelah dua jam, rombongan Ganjar berpamitan. Saat ditanya apakah membahas politik, pria asal Karanganyar, Jawa Tengah, ini menepisnya. Ia mengungkapkan bahwa obrolan dengan Gus Mus sebatas hal-hal yang ringan serta lucu.
Gus Mus menimpali, obrolannya hanya sebatas soal kesehariannya. Seperti olahraga yang rutin dijalankan. “Olahraga saya jalan kaki, beliau naik sepeda. Paling kita ngobrol soal hal-gitu lah,” ungkap Gus Mus.
Sepulang dari kediaman Gus Mus, Ganjar lanjut mengunjungi KH. Ahmad Bahauddin Nursalim atau akrab disapa Gus Baha di Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Lembaga Pembinaan Pendidikan Pengembang Ilmu Al-Qur’an (LP3IA).
Bakal capres dari Gerindra, Prabowo Subianto juga tidak mau ketinggalan. Menteri Pertahanan itu baru saja mengunjungi Gus Miftah dalam acara Open House Akbar Pondok Pesantren (ponpes) Ora Aji Sleman, Yogyakarta, Rabu (3/5/2023).
Dalam acara tersebut, Prabowo hadir mengenakan blangkon, senada dengan Gus Miftah dan baju koko putih. Prabowo mengaku sangat berterima kasih karena diundang. Ia merasa mendapatkan pencerahan, semangat walaupun sebelumnya ia banyak melakukan kegiatan sejak pagi di Yogyakarta. Namun rasa lelahnya seolah hilang, setelah tiba di Ponpes Ora Aji dan mendapat sambutan meriah. “Banyak belajar bagaimana indahnya bangsa kita, mulianya pemimpin-pemimpin agama kita,” ungkap Prabowo.
Bagaimana dengan Anies? Bakal capres yang diusung NasDem-Demokrat-PKS ini juga rajin menyambangi ulama di berbagai daerah. Terbaru, Anies bertemu dengan sejumlah ulama dan pimpinan pondok pesantren di Garut, Jawa Barat. Tak hanya bertemu, Anies bahkan hadir di acara doa, salawat dan zikir yang digelar di Gedung Intan Balarea, Garut (1/5). Acara itu dihadri oleh umat muslim dan tokoh agama di Garut.
Apa makna sowan bacapres ke ulama? Direktur Eksekutif Trias Politika Strategis Agung Baskoro tak ragu menyebut sebagai bagian dalam mengambil ceruk pemilih muslim. Khususnya pemilih muslim dari keluarga nahdliyin. Mengingat Nahdlatul Ulama merupakan ormas Islam yang punya keanggotaan terbesar di Indonesia.
“Di luar soal basis massa tadi, suka atau tidak sekarang ada masa seleksi cawapres. Sehingga dengan sering berkomunikasi dengan para Kyai NU otomatis nama-nama cawapres yang direkomendasikan semakin terang ujungnya,” ungkapnya. Wakil Sekretaris Jenderal (Wakil Sekjen) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Suleman Tanjung, menepis tudingan bahwa suara kiai menjadi rebutan para capres setiap musim Pemilu. Menurutnya, mulai rakyat biasa hingga calon presiden bebas menjalin silaturahmi. Sehingga menurutnya, sah-sah saja jika capres rajin sowan ke ulama menjelang Pemilu.
“Kalau mengunjungi ulama kan ya biasa saja. Orang yang berkunjung ke ulama, ke pondok pesantren itu silaturahmi. Tidak hanya capres, siapapun bisa. Jadi biasa aja,” ujarnya. Suleman juga menjelaskan, saran dan masukan kiai bisa menjadi pegangan hidup bagi siapapun yang bertanya. Sehingga, ketika capres datang berkunjung, biasanya dijadikan momen untuk mendapatkan saran.
Namun Suleman menegaskan, tidak secara otomatis sang kiai mendukung capres yang mengunjunginya. Sebab PBNU punya sikap sendiri dalam menentukan pilihannya. “Kalau PBNU punya patron sendiri, punya pedoman,” pungkasnya. “Udah mulai mau pemilu semua capres pada sowan ke ulama pasti ada maunya, yakni cari masa,” sindir @Teguhsa26905616. “Politik identitas itu selalu datang saat mendekati Pemilu,” timpal @AAldhiaz. “Ustad dan Ulama juga memiliki perhitungan sendiri agar umat tidak lari dari ajaran,” kata @harisubagya.
Akun @DJUMARI22417755 berharap agar bacapres sowan ke kiai tidak hanya jelang pemilu saja, tapi ketika juga sudah menjabat. “Semakin sering belajar ngaji ke kiai-kiai yang paham ilmunya, dirimu akan merasa “Tidak ada apa-apanya”. Dan akan menolak jadi boneka,” ujarnya. “Bagi politisi yang sedang mencari kursi, hal seperti ini penting karena bisa mempengaruhi akar rumput seakan-akan politisi itu pro kelompok yang dikunjunginya,” timpal @nurdin16341198. (rm)