Minggu, 6 September 2026
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Satelit News
  • Beranda
  • Metro Tangerang
    • Kabupaten Tangerang
    • Kota Tangerang
    • Kota Tangsel
  • Banten Region
    • Kabupaten Lebak
    • Kabupaten Pandeglang
    • Kabupaten Serang
    • Kota Cilegon
    • Kota Serang
    • Pemprov Banten
  • Bola & Sport
  • Bisnis
  • Ragam
    • Sosok
    • Life Style
    • Wisata
    • Kuliner
  • Edukasi
  • Nasional
  • Foto
  • Video
  • Kolom
  • Koran
  • Beranda
  • Metro Tangerang
    • Kabupaten Tangerang
    • Kota Tangerang
    • Kota Tangsel
  • Banten Region
    • Kabupaten Lebak
    • Kabupaten Pandeglang
    • Kabupaten Serang
    • Kota Cilegon
    • Kota Serang
    • Pemprov Banten
  • Bola & Sport
  • Bisnis
  • Ragam
    • Sosok
    • Life Style
    • Wisata
    • Kuliner
  • Edukasi
  • Nasional
  • Foto
  • Video
  • Kolom
  • Koran
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Satelit News
HUT RI Ke 81 DPRD Kab Tangerang

Akal Bulus, Akal Fulus, dan Akal Sehat

Oleh: Najamuddin Khairur Rijal*

Oleh Deddy Maqsudi
Senin, 4 Des 2023 18:02 WIB
Rubrik Kolom
Akal Bulus, Akal Fulus, dan Akal Sehat

AKAL BULUS, AKAL FULUS, DAN AKAL SEHAT: Najamuddin Khairur Rijal, Dosen Hubungan Internasional FISIP Universitas Muhammadiyah Malang. (DOK PRIBADI)

FacebookTwitterWhatsapptelegramLinkedinEmail

KETUA Mahkamah Kehormatan Mahkamah Konstitusi (MKMK) yang juga pakar hukum tata negara Jimly Ashiddiqie dalam suatu kesempatan menyampaikan bahwa dalam kehidupan kebangsaan kita saat ini akal sehat telah dikalahkan oleh dua iblis. Dua iblis itu adalah kekayaan dan kekuasaan, akal fulus dan akal bulus.  Menurutnya, akal fulus itu untuk kekayaan atau uang. Sementara akal bulus itu untuk jabatan atau kekuasaan (Kompas, 26/10/2023).

Masih menurut Jimly, masyarakat kita tidak lagi mau membagi (sharing), peduli (caring), dan memberi (giving) kepada negara. Alih-alih bekerja untuk negara, kebanyakan mereka hanya mau mengambil (taking) dan meminta (asking), bahkan jika perlu merampok (robbing) negara. Mereka yang telah berkuasa menggunakan kekuasaannya untuk merebut kekuasaan yang lebih tinggi. Demikian pula mereka yang telah mendapat kekayaan menggunakan kekayaannya untuk mencari kekayaan yang lebih banyak lagi.

Apa yang dikatakan Jimly di atas tentu tidaklah berlebihan. Sebab, realitas politik kebangsaan kita hari ini menampilkan kenyataan tersebut. Muara dari dua iblis yang disebut di atas adalah merajalelanya praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme yang menjadi perhatian bersama saat ini sekaligus menjadi problem mendasar kebangsaan kita.

Dengan menggunakan logika akal bulus dan akal fulus di atas, kita bisa melihat bagaimana fenomena korupsi hari ini sebagai kombinasi dari keduanya. Para koruptor umumnya adalah pejabat, mereka yang memiliki jabatan dan kekuasaan politik. Dengan kekuasaannya, mereka memiliki kemampuan untuk membuat kebijakan tertentu yang menguntungkan diri atau golongannya. Dengan jabatannya, mereka bisa memanfaatkan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya. Dengan akal bulusnya (kekuasaan), mereka berusaha melanggengkan posisinya atau bahkan meraih kekuasaan yang lebih besar atau jabatan yang lebih tinggi dengan menghalalkan segala cara.

Selanjutnya, upaya melanggengkan kekuasaan itu membutuhkan sokongan akal fulus, kekayaan, modal, atau uang. Lewat memanfaatkan kekuasaan, adalah jalan tercepat untuk meraih kekayaan. Kebijakan politik bisa dibuat sedemikian rupa untuk memberikan keuntungan ekonomi pada pihak tertentu. Sebab, modal menjadi tidak bisa dilipatgandakan dengan cepat tanpa difasilitasi oleh kebijakan politik. Sebaliknya, lahirnya para pejabat publik yang punya kuasa untuk mendesain kebijakan politik membutuhkan dukungan kuasa modal. Dua-duanya membentuk saling ketergantungan.

Maka tidak heran, dalam setiap praktik korupsi yang tersaji di hadapan publik selama ini selalu melibatkan dua aktor: pejabat publik dan pengusaha. Pejabat memiliki kekuasaan politik, pengusaha menyokong kekuasaan modal. Inilah persekutuan sempurna antara akal bulus dan akal fulus, kuasa politik dan kuasa kapital.

Baca Juga: Laksanakan Putusan MK, Menkomdigi Larang Operator Hanguskan Sisa Kuota Internet

Mancur Olson, seorang ahli ekonomi dan ilmuan politik Amerika Serikat, dalam karyanya Dictatorship, Democracy, and Development mengajukan pertanyaan retoris. Mengapa setelah berakhirnya otoritarianisme, kemakmuran justru tak kunjung datang? Padahal otoritarianisme dibenci dan berusaha ditumbangkan dengan dalih karena rezim menyengsarakan kehidupan rakyat. Tapi mengapa, setelah otoritarianisme diusir lalu demokrasi diadopsi sebagai sistem pemerintahan baru, kemakmuran yang didambakan tiada kunjung berwujud nyata. Alih-alih kehidupan menjadi lebih baik, yang terjadi justru munculnya praktik otoritarian gaya baru. Kata Olson, jawabannya karena berkuasanya dua bandit, yang oleh Olson disebut sebagai bandit yang menetap (stationary bandit) dan bandit yang mengembara (roving bandit).

Siapakah mereka? Bandit yang menetap adalah para pejabat, penguasa, yang dengan kekuasaannya menghalalkan segala cara untuk memperoleh kepentingan pribadi atau kelompoknya. Bandit yang menetap ini adalah representasi  akal bulus. Sementara bandit yang mengembara, adalah para pengusaha yang datang atas nama investasi. Tetapi setelah semua kekayaan negara dikeruk, mereka kemudian pergi, menyisakan sejumlah masalah. Bandit ini adalah representasi akal fulus. Tidak jarang pula, kedua bandit ini adalah aktor yang sama. Penguasa yang pengusaha atau pengusaha yang jadi penguasa, lalu dengan sedemikian rupa menguasai semua hal lewat kekuasaan dan kekayaannya.

BeritaTerbaru

Budi Luhur di Kalangan Anggota Dewan dalam Perspektif Psikologis

Sabtu, 15 Agu 2026 05:26 WIB
Salah Paham tentang Wakaf Saham

Salah Paham tentang Wakaf Saham

Rabu, 12 Agu 2026 15:21 WIB
Hari Pertama Palang Parkir Otomatis, Pengunjung Stadion Benteng Reborn Terjebak Antrean

Hari Pertama Palang Parkir Otomatis, Pengunjung Stadion Benteng Reborn Terjebak Antrean

Minggu, 2 Agu 2026 20:06 WIB
144 Tahun Peradilan Agama: Dari Serambi Masjid Menuju Penjaga Keadilan Modern

144 Tahun Peradilan Agama: Dari Serambi Masjid Menuju Penjaga Keadilan Modern

Sabtu, 1 Agu 2026 16:36 WIB

Akibatnya, mereka hanya mau mengambil (taking) apapun yang bisa diambil dari negara atau meminta (asking) apapun yang bisa diminta dari negara. Atau, jika perlu merampok (robbing) negara sekalipun dilakukan demi sebuah nafsu kekuasaan dan kekayaan. Maka kita menyaksikan betapa korupsi telah menggurita di semua sektor dan level lembaga negara. Korupsi telah mengorupsi Indonesia. Bahkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai lembaga yang diberi mandat untuk berdiri di garda terdepan pemberantasan korupsi juga tidak luput dari praktik tindak pidana korupsi itu sendiri.

Untuk itulah, dibutuhkan akal sehat dalam memilih pemimpin menjelang suksesi kepemimpinan nasional mendatang. Juga akal sehat para pemimpin, siapa pun yang terpilih, untuk meletakkan kepentingan negara dan rakyat di atas segalanya. Di tengah berbagai problematika kebangsaan, penting bagi siapa pun untuk menjalankan kekuasaan dengan bijak dan tidak membiarkan kekayaan menggantikan nilai-nilai moral dan etika. Hanya dengan begitu, kita dapat menciptakan masyarakat yang lebih adil, makmur, sejahtera menuju Indonesia Emas 2045.

Dalam konteks itu, kita membutuhkan pemimpin yang berintegritas tinggi, jujur, adil, dan transparan. Dengan integritas itu, diharapkan dapat mewujudkan pemerintahan yang bersih dan anti-korupsi. Lebih dari itu, harus memperkuat hukum dan aparat penegak hukum dengan menjalankan hukum tanpa pandang bulu. Karena itu, integritas dan komitmen para kandidat presiden dan wakil presiden pada pemberantasan korupsi dan penegakan hukum harus benar-benar kita diuji. Paling tidak, dokumen visi-misi mereka yang berisi agenda strategis bangsa lima tahun mendatang perlu dikaji agar publik tahu siapa yang memiliki gagasan besar dan realistis untuk memajukan Indonesia. (*)

 

Baca Juga: Eksepsi Kandas, Yaqut Janjikan Fakta

*(Dosen Hubungan Internasional FISIP Universitas Muhammadiyah Malang)

Tags: hukum tata negarakpkmkmkmk
ShareTweetKirimShareShareKirim

BeritaTerkait

Kolom

Menakar Peta Jalan Operasional: Jembatani Disparitas Ketahanan Pangan Banten Unggul Berdaulat

Jumat, 17 Jul 2026 13:10 WIB
Nasib Malang Rupiah
Kolom

Nasib Malang Rupiah

Senin, 13 Jul 2026 20:32 WIB
Membangun Prestasi Olahraga melalui Budaya Evaluasi di Lingkungan KONI
Kolom

Membangun Prestasi Olahraga melalui Budaya Evaluasi di Lingkungan KONI

Rabu, 17 Jun 2026 18:56 WIB
Kolom

“Revitalisasi Puskesmas dan Posyandu: Dari Tempat Berobat Menjadi Pusat Pencegahan Penyakit”

Minggu, 14 Jun 2026 08:52 WIB
Kolom

Krisis Keamanan Obat dan Self-Medication Remaja: Pembelajaran dari Kasus GGAPA terhadap Risiko Penyakit Pernapasan Urban

Jumat, 5 Jun 2026 16:35 WIB
Darurat TBC di Serang: Ketika Anak-Anak Menjadi Korban Pembangunan yang Timpang
Kolom

Darurat TBC di Serang: Ketika Anak-Anak Menjadi Korban Pembangunan yang Timpang

Jumat, 29 Mei 2026 13:19 WIB
Turut Berduka Cita Atas Wafatnya H. Desri Arwen
Pendaftaran Obyek Subyek Pajak Daerah Bapenda Tangsel
HUT RI Ke 81 Dinas perpustakaan dan arsip Kab Tangerang
HUT RI Ke 81 PT LKM Artha Kerta Raharja
HUT RI Ke 81 Dinsos Kab Tangerang
HUT RI Ke 81 Bapenda Kab Tangerang
HUT RI Ke 81 DPRD Kab Tangerang
HUT RI Ke 81 DPRD Kab Tangerang

Berita Pilihan

Dislipidemia dan Obesitas Jadi Temuan Tertinggi CKG di Kota Tangerang

Dislipidemia dan Obesitas Jadi Temuan Tertinggi CKG di Kota Tangerang

Rabu, 2 Sep 2026 14:05 WIB
MENDISTRIBUSIKAN AIR BERSIH : Jajaran Polda Banten, mendistribusikan bantuan air bersih kepada warga Tigaraksa. (ISTIMEWA)

Tangani Kekeringan, Polda Banten Distribusikan 6.500 Liter Air Bersih

Minggu, 30 Agu 2026 13:07 WIB
Tinjau Proyek Turap dan Bronjong di Tiga Lokasi, Ini Kata Wakil Wali Kota Tangsel

Tinjau Proyek Turap di Tangsel, Pilar Saga Wanti-Wanti Soal Kualitas

Rabu, 2 Sep 2026 20:38 WIB
Gyokai Indonesia Kompeten Gandeng UNTARA, Siapkan Lulusan SMK Kuliah Sambil Bekerja

Gyokai Indonesia Kompeten Gandeng UNTARA, Siapkan Lulusan SMK Kuliah Sambil Bekerja

Rabu, 2 Sep 2026 12:32 WIB
SUNGAI CIUJUNG : Kali Ciujung di Desa Sangiang, Kecamatan Pamarayan, mulai surut karena kemarau. Baru-baru ini, aliran Sungai Ciujung di Kabupaten Serang, berubah menjadi hitam karena dampak pembuangan limbah. (ISTIMEWA)

32 Perusahaan Di Banten Berstatus Tidak Taat Lingkungan

Senin, 31 Agu 2026 13:42 WIB
WhatsApp Satelit News
Ikuti WA Channel Satelit News
Google News Satelit News
Ikuti Kami di Google News

Facebook

SatelitNewsIDN

Youtube

@SatelitNewsIDN

Instagram

satelitnewsid

Pinterest

SatelitNewsID

Linkedin

SatelitNews

Tiktok

@satelitnewsofficial
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Syarat & Ketentuan
  • Pedoman
  • Kode Etik

Jauh Menjangkau Jernih Bersuara.
© 2025 Satelit News - All Rights Reserved.

Selamat datang kembali!

Masuk ke akun Anda di bawah ini

Password Yang Terlupakan?

Ambil kata sandi Anda

Silakan masukkan nama pengguna atau alamat email Anda untuk mengatur ulang kata sandi Anda.

Log In

Add New Playlist

Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Beranda
  • Metro Tangerang
    • Kabupaten Tangerang
    • Kota Tangerang
    • Kota Tangsel
  • Banten Region
    • Kabupaten Lebak
    • Kabupaten Pandeglang
    • Kabupaten Serang
    • Kota Cilegon
    • Kota Serang
    • Pemprov Banten
  • Bola & Sport
  • Bisnis
  • Ragam
    • Sosok
    • Life Style
    • Wisata
    • Kuliner
  • Edukasi
  • Nasional
  • Foto
  • Video
  • Kolom
  • Koran

© 2025 Satelit News - All Rights Reserved.