Senin, 6 Juli 2026
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Satelit News
  • Beranda
  • Metro Tangerang
    • Kabupaten Tangerang
    • Kota Tangerang
    • Kota Tangsel
  • Banten Region
    • Kabupaten Lebak
    • Kabupaten Pandeglang
    • Kabupaten Serang
    • Kota Cilegon
    • Kota Serang
    • Pemprov Banten
  • Bola & Sport
  • Bisnis
  • Ragam
    • Sosok
    • Life Style
    • Wisata
    • Kuliner
  • Edukasi
  • Nasional
  • Foto
  • Video
  • Kolom
  • Koran
  • Beranda
  • Metro Tangerang
    • Kabupaten Tangerang
    • Kota Tangerang
    • Kota Tangsel
  • Banten Region
    • Kabupaten Lebak
    • Kabupaten Pandeglang
    • Kabupaten Serang
    • Kota Cilegon
    • Kota Serang
    • Pemprov Banten
  • Bola & Sport
  • Bisnis
  • Ragam
    • Sosok
    • Life Style
    • Wisata
    • Kuliner
  • Edukasi
  • Nasional
  • Foto
  • Video
  • Kolom
  • Koran
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Satelit News

Akal Bulus, Akal Fulus, dan Akal Sehat

Oleh: Najamuddin Khairur Rijal*

Oleh Deddy Maqsudi
Senin, 4 Des 2023 18:02 WIB
Rubrik Kolom
Akal Bulus, Akal Fulus, dan Akal Sehat

AKAL BULUS, AKAL FULUS, DAN AKAL SEHAT: Najamuddin Khairur Rijal, Dosen Hubungan Internasional FISIP Universitas Muhammadiyah Malang. (DOK PRIBADI)

FacebookTwitterWhatsapptelegramLinkedinEmail

KETUA Mahkamah Kehormatan Mahkamah Konstitusi (MKMK) yang juga pakar hukum tata negara Jimly Ashiddiqie dalam suatu kesempatan menyampaikan bahwa dalam kehidupan kebangsaan kita saat ini akal sehat telah dikalahkan oleh dua iblis. Dua iblis itu adalah kekayaan dan kekuasaan, akal fulus dan akal bulus.  Menurutnya, akal fulus itu untuk kekayaan atau uang. Sementara akal bulus itu untuk jabatan atau kekuasaan (Kompas, 26/10/2023).

Masih menurut Jimly, masyarakat kita tidak lagi mau membagi (sharing), peduli (caring), dan memberi (giving) kepada negara. Alih-alih bekerja untuk negara, kebanyakan mereka hanya mau mengambil (taking) dan meminta (asking), bahkan jika perlu merampok (robbing) negara. Mereka yang telah berkuasa menggunakan kekuasaannya untuk merebut kekuasaan yang lebih tinggi. Demikian pula mereka yang telah mendapat kekayaan menggunakan kekayaannya untuk mencari kekayaan yang lebih banyak lagi.

Apa yang dikatakan Jimly di atas tentu tidaklah berlebihan. Sebab, realitas politik kebangsaan kita hari ini menampilkan kenyataan tersebut. Muara dari dua iblis yang disebut di atas adalah merajalelanya praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme yang menjadi perhatian bersama saat ini sekaligus menjadi problem mendasar kebangsaan kita.

Dengan menggunakan logika akal bulus dan akal fulus di atas, kita bisa melihat bagaimana fenomena korupsi hari ini sebagai kombinasi dari keduanya. Para koruptor umumnya adalah pejabat, mereka yang memiliki jabatan dan kekuasaan politik. Dengan kekuasaannya, mereka memiliki kemampuan untuk membuat kebijakan tertentu yang menguntungkan diri atau golongannya. Dengan jabatannya, mereka bisa memanfaatkan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya. Dengan akal bulusnya (kekuasaan), mereka berusaha melanggengkan posisinya atau bahkan meraih kekuasaan yang lebih besar atau jabatan yang lebih tinggi dengan menghalalkan segala cara.

Selanjutnya, upaya melanggengkan kekuasaan itu membutuhkan sokongan akal fulus, kekayaan, modal, atau uang. Lewat memanfaatkan kekuasaan, adalah jalan tercepat untuk meraih kekayaan. Kebijakan politik bisa dibuat sedemikian rupa untuk memberikan keuntungan ekonomi pada pihak tertentu. Sebab, modal menjadi tidak bisa dilipatgandakan dengan cepat tanpa difasilitasi oleh kebijakan politik. Sebaliknya, lahirnya para pejabat publik yang punya kuasa untuk mendesain kebijakan politik membutuhkan dukungan kuasa modal. Dua-duanya membentuk saling ketergantungan.

Maka tidak heran, dalam setiap praktik korupsi yang tersaji di hadapan publik selama ini selalu melibatkan dua aktor: pejabat publik dan pengusaha. Pejabat memiliki kekuasaan politik, pengusaha menyokong kekuasaan modal. Inilah persekutuan sempurna antara akal bulus dan akal fulus, kuasa politik dan kuasa kapital.

Baca Juga: Makelar Kasus Tak Sakti Tanpa Orang Dalam, Ketua KPK Soroti Jabatan “Basah-Kering”

Mancur Olson, seorang ahli ekonomi dan ilmuan politik Amerika Serikat, dalam karyanya Dictatorship, Democracy, and Development mengajukan pertanyaan retoris. Mengapa setelah berakhirnya otoritarianisme, kemakmuran justru tak kunjung datang? Padahal otoritarianisme dibenci dan berusaha ditumbangkan dengan dalih karena rezim menyengsarakan kehidupan rakyat. Tapi mengapa, setelah otoritarianisme diusir lalu demokrasi diadopsi sebagai sistem pemerintahan baru, kemakmuran yang didambakan tiada kunjung berwujud nyata. Alih-alih kehidupan menjadi lebih baik, yang terjadi justru munculnya praktik otoritarian gaya baru. Kata Olson, jawabannya karena berkuasanya dua bandit, yang oleh Olson disebut sebagai bandit yang menetap (stationary bandit) dan bandit yang mengembara (roving bandit).

Siapakah mereka? Bandit yang menetap adalah para pejabat, penguasa, yang dengan kekuasaannya menghalalkan segala cara untuk memperoleh kepentingan pribadi atau kelompoknya. Bandit yang menetap ini adalah representasi  akal bulus. Sementara bandit yang mengembara, adalah para pengusaha yang datang atas nama investasi. Tetapi setelah semua kekayaan negara dikeruk, mereka kemudian pergi, menyisakan sejumlah masalah. Bandit ini adalah representasi akal fulus. Tidak jarang pula, kedua bandit ini adalah aktor yang sama. Penguasa yang pengusaha atau pengusaha yang jadi penguasa, lalu dengan sedemikian rupa menguasai semua hal lewat kekuasaan dan kekayaannya.

BeritaTerbaru

Pola Pikir Ini Diduga Menjadi Penyebab Tingginya Pasutri di Lebak Tak Punya Buku Nikah

Pola Pikir Ini Diduga Menjadi Penyebab Tingginya Pasutri di Lebak Tak Punya Buku Nikah

Minggu, 14 Des 2025 14:16 WIB
Perbedaan Prioritas Budgeting Gen Z: Traveling atau Wedding Dream?

Perbedaan Prioritas Budgeting Gen Z: Traveling atau Wedding Dream?

Senin, 8 Des 2025 21:02 WIB
Di Balik Senyum Guru, Ada Luka yang Kita Biarkan

Di Balik Senyum Guru, Ada Luka yang Kita Biarkan

Jumat, 21 Nov 2025 14:02 WIB
Tanpa Pesantren, Tak Akan Ada Hari Pahlawan

Tanpa Pesantren, Tak Akan Ada Hari Pahlawan

Senin, 10 Nov 2025 15:47 WIB

Akibatnya, mereka hanya mau mengambil (taking) apapun yang bisa diambil dari negara atau meminta (asking) apapun yang bisa diminta dari negara. Atau, jika perlu merampok (robbing) negara sekalipun dilakukan demi sebuah nafsu kekuasaan dan kekayaan. Maka kita menyaksikan betapa korupsi telah menggurita di semua sektor dan level lembaga negara. Korupsi telah mengorupsi Indonesia. Bahkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai lembaga yang diberi mandat untuk berdiri di garda terdepan pemberantasan korupsi juga tidak luput dari praktik tindak pidana korupsi itu sendiri.

Untuk itulah, dibutuhkan akal sehat dalam memilih pemimpin menjelang suksesi kepemimpinan nasional mendatang. Juga akal sehat para pemimpin, siapa pun yang terpilih, untuk meletakkan kepentingan negara dan rakyat di atas segalanya. Di tengah berbagai problematika kebangsaan, penting bagi siapa pun untuk menjalankan kekuasaan dengan bijak dan tidak membiarkan kekayaan menggantikan nilai-nilai moral dan etika. Hanya dengan begitu, kita dapat menciptakan masyarakat yang lebih adil, makmur, sejahtera menuju Indonesia Emas 2045.

Dalam konteks itu, kita membutuhkan pemimpin yang berintegritas tinggi, jujur, adil, dan transparan. Dengan integritas itu, diharapkan dapat mewujudkan pemerintahan yang bersih dan anti-korupsi. Lebih dari itu, harus memperkuat hukum dan aparat penegak hukum dengan menjalankan hukum tanpa pandang bulu. Karena itu, integritas dan komitmen para kandidat presiden dan wakil presiden pada pemberantasan korupsi dan penegakan hukum harus benar-benar kita diuji. Paling tidak, dokumen visi-misi mereka yang berisi agenda strategis bangsa lima tahun mendatang perlu dikaji agar publik tahu siapa yang memiliki gagasan besar dan realistis untuk memajukan Indonesia. (*)

 

Baca Juga: KPK Imbau Pemda Setop Beri Dana Hibah ke Instansi Vertikal, Ini Respons Wakil Wali kota Tangerang

*(Dosen Hubungan Internasional FISIP Universitas Muhammadiyah Malang)

Tags: hukum tata negarakpkmkmkmk
ShareTweetKirimShareShareKirim

BeritaTerkait

Lahirnya Dirjen Pesantren: Akhir Penantian Panjang Dunia Pesantren
Headline

Lahirnya Dirjen Pesantren: Akhir Penantian Panjang Dunia Pesantren

Kamis, 23 Okt 2025 14:14 WIB
Menyulam Kolaborasi untuk Kesejahteraan: Refleksi 393 Tahun Kabupaten Tangerang
Kolom

Menyulam Kolaborasi untuk Kesejahteraan: Refleksi 393 Tahun Kabupaten Tangerang

Selasa, 14 Okt 2025 20:02 WIB
Kolom

Inklusi Layanan Disabilitas Bukan Ilusi

Jumat, 12 Sep 2025 14:51 WIB
Kolom

Pengaruh Media Audio Visual untuk Meningkatkan Kemampuan Kognitif Berhitung Permulaan (1–10) Anak Usia 4–5 Tahun di PAUD HI Tunas Mandiri

Kamis, 11 Sep 2025 19:12 WIB
Kolom

80 Tahun Indonesia Merdeka Ala Kampung Santri; Napak Tilas Kemerdekaan Belajar Mengajar, Menjadikan Pesantren sebagai Kluster Ketahanan Pangan Nasional dan Dunia

Selasa, 19 Agu 2025 11:28 WIB
80 Tahun Merdeka: Saatnya Madrasah, Guru, dan Pendidikan Agama Nonformal Menjadi Prioritas Negara
Kolom

80 Tahun Merdeka: Saatnya Madrasah, Guru, dan Pendidikan Agama Nonformal Menjadi Prioritas Negara

Kamis, 14 Agu 2025 15:07 WIB
UMN HUT Satelit News 2026
SARI ASIH Tangerang HUT Satelit News 2026
PARTAI DEMOKRAT DPRD Kabupaten Tangerang HUT Satelit News 2026
FRAKSI PDI P DPRD Kabupaten Tangerang HUT Satelit News 2026
DISPORABUDPAR Kabupaten Tangerang HUT Satelit News 2026
DISPERINDAG Kabupaten Tangerang HUT Satelit News 2026
DISHUB TANGSEL HUT Satelit News 2026
DINSOS Kabupaten Tangerang HUT Satelit News 2026
Dinas PERKIM Kabupaten Tangerang HUT Satelit News 2026
BPBD Kota Tangerang HUT Satelit News 2026
PORDA XII PEPARPEDA IX Kota Cilegon
PT LKM WTP KAB TANGERANG
WTP Kab Tangerang

Berita Pilihan

Di PT Adis Balaraja, Gubernur Banten Tegaskan Komitmen Ciptakan Iklim Investasi yang Kondusif

Di PT Adis Balaraja, Gubernur Banten Tegaskan Komitmen Ciptakan Iklim Investasi yang Kondusif

Kamis, 2 Jul 2026 21:25 WIB

IPLM Lebak Turun, Dispusar Dorong Sekolah Alokasikan Dana BOS untuk Buku Bacaan Umum

Jumat, 3 Jul 2026 15:49 WIB
Seragam Sekolah Gratis di Tangsel Hanya Untuk Siswa Jalur Afirmasi

Seragam Sekolah Gratis di Tangsel Hanya Untuk Siswa Jalur Afirmasi

Minggu, 5 Jul 2026 16:57 WIB
Libur Sekolah, Orang Tua Diingatkan Bahaya Jerat Medsos

Libur Sekolah, Orang Tua di Lebak Diingatkan Bahaya Jerat Medsos

Senin, 29 Jun 2026 20:25 WIB
Bertandang ke Semarang, Atlet Sepatu Roda Kabupaten Tangerang Bawa Empat Emas

Bertandang ke Semarang, Atlet Sepatu Roda Kabupaten Tangerang Bawa Empat Emas

Minggu, 5 Jul 2026 19:55 WIB
WhatsApp Satelit News
Ikuti WA Channel Satelit News
Google News Satelit News
Ikuti Kami di Google News

Facebook

SatelitNewsIDN

Youtube

@SatelitNewsIDN

Instagram

satelitnewsid

Pinterest

SatelitNewsID

Linkedin

SatelitNews

Tiktok

@satelitnewsofficial
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Syarat & Ketentuan
  • Pedoman
  • Kode Etik

Jauh Menjangkau Jernih Bersuara.
© 2025 Satelit News - All Rights Reserved.

Selamat datang kembali!

Masuk ke akun Anda di bawah ini

Password Yang Terlupakan?

Ambil kata sandi Anda

Silakan masukkan nama pengguna atau alamat email Anda untuk mengatur ulang kata sandi Anda.

Log In

Add New Playlist

Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Beranda
  • Metro Tangerang
    • Kabupaten Tangerang
    • Kota Tangerang
    • Kota Tangsel
  • Banten Region
    • Kabupaten Lebak
    • Kabupaten Pandeglang
    • Kabupaten Serang
    • Kota Cilegon
    • Kota Serang
    • Pemprov Banten
  • Bola & Sport
  • Bisnis
  • Ragam
    • Sosok
    • Life Style
    • Wisata
    • Kuliner
  • Edukasi
  • Nasional
  • Foto
  • Video
  • Kolom
  • Koran

© 2025 Satelit News - All Rights Reserved.