SATELITNEWS.COM, SERPONG—Di Jalan Cilenggang RT 04 RW 02, Kelurahan Cilenggang, Kecamatan Serpong, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), terdapat sebuah tempat produksi dodol Betawi yang telah berdiri sejak tahun 1995. “Pabrik” itu dimiliki Asep Jaya telah mewarisi resep dan teknik pembuatan dodol dari almarhum ibunya.
Kesibukan terlihat di dapur pembuatan dodol Betawi Cilenggang milik Asep Jaya. Para pekerja bergiliran mengaduk dodol yang mendidih di atas wajan menggunakan alat khusus berbahan dari kayu.
Aroma yang menyebar ke sekitar ruangan, membuat yang menghirupnya pun akan penasaran akan rasanya.
Kata Asep, proses pembuatan dodol miliknya masih menggunakan cara tradisional sejak awal berdiri tahun 1995 lalu. Memasak menggunakan tungku dan tanah berlubang tetap dipertahankan. Yang membuat beda dengan cara masak produsen sejenisnya, dodol Betawi Cilanggang dimasak di atas bara membara.
Bahan bakar bara lebih dipilih dibandingkan dengan api. Jika masak menggunakan bara, pekerja tidak perlu berlomba dengan waktu lantaran panas stabil. Walau pun ada risiko lain yang harus ditanggung. Menurut Asep, memasak dengan bara membuat mereka tidak boleh terhenti mengaduk lantaran bahan bisa gosong sehingga membuat cita rasa dodol berubah.
Dia menjelaskan, setiap wajan tembaga berukuran besar mampu menampung bahan-bahan berupa beras ketan, gula aren, dan kelapa setara 60 kilogram. Bahan yang mulai dimasak wajib diselesaikan dengan cara diaduk secara konsisten selama delapan jam. Teknik pengadukan yang membutuhkan ketelatenan ini juga menjadi kunci kelezatan dodol Betawi Cilenggang.
“Cara pembuatan dodol tidak berubah, masih manual dari dulu. Kan ada yang ngarahin pakai mesin, kalau pakai mesin pasti rasanya berubah,” ucap Asep saat ditemui di dapur pembuatan dodol Betawi Cilenggang, Minggu (23/3).
Baca Juga: Polsek Serpong Ajak Warga Aktif Jaga Kamtibmas di Wilayah
Setiap hari, asep dan pegawainya mampu membuat 200 kilogram dodol. Untuk itu, mereka mulai memasak dodol sejak pagi hari.
Asep menyampaikan, menjelang lebaran seperti sekarang memang jumlah produksi mengalami kenaikan. Pekerja yang saat ini berjumlah sepuluh bisa bertambah berkali lipat. Bahkan, jika orderan terus berdatangan, produksi bisa berlangsung hingga malam takbiran. Per kilonya, dodol Betawi Cilenggang dibandrol Rp 62 ribu.
“Untuk memenuhi kebutuhan pelanggan sehari produksi 200 kilo, untuk kedepannya masih kebaca ada kenaikan. Dibandingkan hari biasa memang lebih banyak pesanan online pun beli kesini. Pesanan paling jauh sudah kemana saja, mulai dari Jawa Tengah dan Jawa Timur,” ungkapnya.
Asep menceritakan, usaha rintisan keluarganya juga tidak luput dari pasang surut beberapa tahun lalu. Saat sebelum virus covid-19 ada, dalam satu hari tempatnya bisa memproduksi dodol hingga 900 kilogram setiap harinya. Namun, menurunnya jumlah produksi masih bisa diatasi.
Tetapi, kesulitan yang dihadapi selama covid-19 tidak begitu berasa baginya. Kata Asep, usaha dodol itu benar-benar ingin dia tinggalkan ketika kehilangan sang ibu sekitar lima tahun silam. Namun, kecintaannya dengan dodol dan mempertimbangkan usaha yang dirintis oleh orang tuanya membuat Asep mengurungkan niatnya.
“Istilahnya sudah melekat di jiwa, saya untuk ditinggalkan karena awal berangkatnya dari sini. Hati kita juga ngga tega kalau kita berhenti, karyawan bagaimana. Sempat mau berhenti, dodol tinggalin aja cari kerjaan lain. Itu waktu ditinggal sama orang tua, sekitar 5 tahun lalu,” jelasnya. (eko)
Baca Juga: Meski Tak Diguyur Hujan, Perumahan Bumi Serpong Residence Tangsel Kebanjiran
