SATELITNEWS.COM, SERANG – Gubernur Banten Andra Soni, mengajukan Pelabuhan di Banten bisa dioptimalkan untuk kebutuhan distribusi logistik, baik ekspor maupun impor.
Hal itu penting dilakukan, selain untuk meningkatkan efektivitas dan mengurangi beban kepadatan yang selama ini terjadi di Tanjung Priuk. Apalagi, perairan di wilayah Kota Cilegon, kedalamnnya cukup untuk sandar kapal-kapal besar.
Setidaknya, ada dua Pelabuhan dengan tingkat kedalaman yang cukup besar di Provinsi Banten, yang bisa digunakan untuk ekspor impor kebutuhan logistik, seperti Pelabuhan Bojonegara dan Ciwandan.
Pelabuhan Bojonegara, memiliki potensi kedalaman yang cukup besar, mencapai 16 meter LWS, yang memungkinkannya untuk melayani kapal peti kemas berukuran besar. Pada tahun 2006, salah satu dermaga sudah memiliki kedalaman air 12 meter dan sudah direncanakan untuk terminal peti kemas dengan kedalaman air 14 meter untuk melayani kapal 50.000 DWT.
Kemudian ada pelabuhan Ciwandan, dengan kedalamannya berkisar antara -7 hingga -12 meter LWS (Lowest Water Spring) yang sudah ada fasilitas dermaga dengan kedalaman 14 meter. Pelabuhan milik Pelindo ini juga sudah beroperasi untuk angkutan logistik antar regional.
Gubernur Banten Andra Soni meyakini, hadirnya pelabuhan ekspor impor barang umum di Provinsi Banten akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi Provinsi Banten dan Nasional.
Langkah itu, akan meningkatkan nilai tukar bruto Provinsi Banten serta mengurangi beban subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) pemerintah, yang terus melonjak akibat kepadatan lalu lintas.
“Kami memiliki 21 kawasan Industri berkembang dan tumbuh. Menjadi menopang PDRB Provinsi Banten,” katanya, saat mendampingi Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko IPK), Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), yang sekaligus meresmikan kapal ro-ro dan optimalisasi kereta api logistik di Pelabuhan Krakatau Bandar Samudera (KBS), Cilegon, Selasa (18/11/2025).
Dikatakan Andra, nilai tukar bruto di Provinsi Banten saat ini masih rendah meskipun nilai investasi di Banten cukup besar. Namun disisi lain cost produksi Perusahaan juga sangat besar, untuk distribusi barang menuju Pelabuhan Tanjung Priuk.
“Kalau Pelabuhan di Banten ini bisa dioptimalkan, cost distribusi barang itu bisa ditekan dan beban jalan juga bisa dikurangi,” ujarnya.
“Karena semua dibawa ke Pelabuhan Tanjung Priok semua masyarakat mengalami kendala. Mengalami biaya tinggi karena truk berdampingan dengan mobil – mobil kecil. Kemudian otomatis bahan bakar yang disubsidi pemerintah terus mengalami lonjakan penggunaan sehingga beban pemerintah semakin berat.” tambah Andra.
Andra berharap, aktivasi jalur logistik yang dilakukan ini kedepan bisa menyasar pelabuhan di Provinsi Banten untuk dijadikan sebagai pelabuhan ekspor impor barang. Apalagi kawasan industri di Banten ini cukup besar.
“InsyaAllah delapan persen pertumbuhan ekonomi nasional akan tercapai dimulai dari Provinsi Banten,” pungkasnya.
Sementara itu, Menko AHY menyadari jika banyak industry strategis yang fundamental untuk pembangunan kewilayahan. Sebagai negara kepulauan, Indonesia membangun semua moda transportasi sama.
Dikatakan AHY, penggunaan kereta api untuk mengurangi over dimensi overload (odol) turut mengurangi risiko di jalan.
Sehingga, penguatan transportasi kereta api penting. Hal serupa pada pengoperasion kapal roro Pelabuhan Krakatau Bandar Samudera (KBS) Cigading – Pelabuhan Panjang (Lampung) atau sebaliknya yang mampu mengangkut 300 truk atau 600 kendaraan kecil.
“Bukan hanya produk – produk atau komoditas baja atau turunannya, tapi juga yang lain. Feed and food termasuk juga berbagai jetrol container,” ungkap AHY. (luthfi)