SATELITNEWS.COM, BANDA ACEH — Pemerintah Aceh menegaskan informasi yang beredar di media sosial tentang 400 korban meninggal akibat banjir dan longsor adalah kabar bohong. Data resmi hingga Minggu menunjukkan 70 orang meninggal dunia.
“Saya pastikan data itu tidak benar, alias kabar hoaks,” kata Juru Bicara Pos Komando Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi Aceh, Murthalamuddin, di Banda Aceh, Minggu (30/11/2025).
Murthalamuddin menjelaskan, pesan berantai yang menyebut jumlah korban jauh lebih besar telah menimbulkan kebingungan di masyarakat. Karena itu ia meminta warga hanya merujuk pada sumber resmi.
Sejak 18 November 2025, banjir dan longsor melanda 18 dari 23 kabupaten/kota di Aceh. Sebanyak 89.959 kepala keluarga terdampak dan 62 ribu kepala keluarga di antaranya mengungsi di 514 lokasi pengungsian. Bencana alam itu terdampak di 1.286 gampong/desa tersebar di 242 kecamatan.
Ketua Posko Komando Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi Aceh M Nasir mengatakan, jumlah korban jiwa bertambah menjadi 96 orang pada Minggu, pukul 16.14 WIB.
“Data yang masuk saat ini jumlah bertambah karena jalur informasi mulai terhubung. Kita berharap jumlah korban jiwa tidak terus bertambah,” kata dia seusai rapat evaluasi Posko Komando Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi di Kantor Gubernur Aceh, Banda Aceh.
Ia merincikan jumlah luka ringan sebanyak 1.284 orang, luka berat 330 orang dan dinyatakan hilang 113 orang. “Saat ini Pemerintah Aceh bersama seluruh instansi terkait baik daerah dan pusat bekerja maksimal untuk evakuasi warga dan juga distribusi logistik ke seluruh daerah terdampak,” katanya yang juga sekda Aceh.
Ia menambahkan bantuan yang disalurkan tersebut diangkut lewat darat dan udara serta laut untuk daerah yang belum bisa terhubung serta terisolir. “Alhamdulillah kita ikut dibantu BNPB dan juga Kodam IM serta Polda Aceh dalam distribusi bantuan lewat jalur udara dan laut,” katanya.
Wakil Ketua DPR Aceh, Saifuddin alias Yah Fud, mengingatkan agar akun-akun media sosial tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.“Situasi saat ini sudah cukup sulit bagi masyarakat yang terdampak. Jangan lagi ditambah dengan informasi yang tidak dapat ipertanggungjawabkan,” ujarnya.
Ia menyebut, masih banyak wilayah mengalami gangguan jaringan dan akses jalan terputus. Kondisi itu membuat informasi yang beredar sering kali tidak utuh sehingga rentan keliru bila tidak bersumber dari pihak berwenang.
“Kalau ada informasi penting, pastikan dulu sumbernya jelas. Dampaknya bisa sangat luas,” kata Yah Fud.
Di tingkat nasional, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyampaikan duka cita atas bencana yang melanda Aceh dan sejumlah wilayah di Sumatera.
Plt. Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menjelaskan bahwa banjir dan longsor di lima kabupaten—Humbang Hasudutan, Agam, Mandailing Natal, Gayo Lues, dan Aceh Tenggara—dipicu tiga faktor utama. Yakni, curah hujan tinggi hingga ekstrem, kondisi geomorfologi yang curam hingga sangat curam, serta litologi yang lapuk dan mudah tererosi.
Terkait longsor di dua kabupaten di Sumatera Utara, Lana menjelaskan bahwa titik-titik bencana umumnya berada di kawasan perbukitan curam hingga sangat curam yang mengelilingi Kota Sibolga. Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah, wilayah itu berada pada zona potensi gerakan tanah menengah–tinggi, yang berarti kejadian longsor bisa berulang.
Penjelasan serupa disampaikan Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani. Menurut analisis BMKG, perkembangan signifikan Bibit Siklon Tropis 95B sejak 21 November 2025 di perairan timur Aceh dan Selat Malaka telah meningkatkan intensitas hujan lebat hingga ekstrem serta angin kencang di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, dan wilayah sekitarnya.
BMKG juga mendeteksi Meso Siklon Konvektif Kompleks (Mesoscale Convective Complex/MCC) di Samudra Hindia barat Sumatra yang berpotensi memicu bencana susulan, terutama di Mandailing Natal dan sebagian besar Sumatera Barat. Sistem awan badai berskala besar ini dikenal menghasilkan hujan sangat deras dalam durasi panjang, angin kencang, hingga hujan es.
BMKG meminta masyarakat tetap waspada dan memastikan seluruh informasi merujuk kepada sumber resmi untuk menghindari kesimpangsiuran di tengah situasi darurat. (rmg/xan)