SATELITNEWS.COM, JAKARTA—Pergerakan besar masyarakat mulai menguji kesiapan pengamanan libar Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025–2026. Pada H-3 Nataru, arus lalu lintas keluar–masuk Jakarta naik lebih dari 20 persen. Polisi telah menyiapkan skema rekayasa lalu lintas dan rencana darurat untuk mengantisipasi kepadatan kendaraan sekaligus dampak cuaca ekstrem.
Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo mengatakan, peningkatan arus tersebut masih dalam batas terkendali. Namun, kecenderungan lonjakan lebih awal menjadi perhatian serius aparat, mengingat potensi puncak arus yang diperkirakan terjadi mendekati Hari Raya Natal dan pergantian tahun.
“Hingga hari ini arus lalu lintas masih terpantau normal, meski terjadi peningkatan sekitar 21 sampai 22 persen dibandingkan hari biasa. Dari target kurang lebih 666 ribu kendaraan yang masuk maupun keluar Jakarta, semuanya masih bisa kami kendalikan,” ujar Sigit usai meninjau Jasa Marga Toll Road Command Center (JTMC) di Jatiasih, Kota Bekasi, Senin (22/12/2025).
Dari pusat kendali tersebut, Polri bersama operator jalan tol memantau pergerakan kendaraan di seluruh ruas tol nasional secara real time. Data tersebut menjadi dasar penerapan berbagai skema pengaturan lalu lintas yang telah disiapkan sejak awal Operasi Lilin 2025.
Kapolri menegaskan, rekayasa lalu lintas akan diterapkan secara bertahap dan situasional. Skema yang disiapkan meliputi contraflow, one way, hingga one way terbatas, khususnya di jalur utama mudik, jalur wisata, serta titik perlintasan yang berpotensi mengalami lonjakan kendaraan.
“Korlantas sudah memaparkan seluruh strategi pengaturan lalu lintas. Dari contraflow sampai one way, semuanya dipersiapkan agar perjalanan masyarakat tetap berjalan aman dan lancar,” kata Sigit.
Selain kepadatan kendaraan, faktor cuaca menjadi tantangan tersendiri dalam pengamanan Nataru tahun ini. Kepala Korps Lalu Lintas Polri Irjen Pol. Agus Suryonugroho mengatakan, potensi hujan lebat, angin kencang, dan gelombang tinggi telah diantisipasi melalui penyusunan rencana darurat di berbagai titik rawan.
“Kami menyiapkan emergency plan di jalan tol, jalur arteri, dan pelabuhan penyeberangan. Alat berat, ambulans, serta tim urai sudah disiagakan agar arus lalu lintas tidak terhenti jika terjadi gangguan akibat cuaca ekstrem,” ujar Agus.
Antisipasi khusus dilakukan di Pelabuhan Merak dan Bakauheni sebagai simpul penyeberangan utama Jawa–Sumatra. Jika cuaca buruk memaksa penghentian sementara penyeberangan, kendaraan akan diarahkan ke buffer zone atau kantong parkir yang telah disiapkan, sehingga antrean tidak meluber hingga ke ruas tol.
Sejumlah titik rawan kemacetan lain juga masuk dalam perhatian kepolisian, seperti jalur Gadog menuju Puncak, kawasan Nagreg di Bandung, serta Mengkreng di Jawa Timur. Di wilayah tersebut, skema one way dan pengalihan arus telah disiapkan untuk mengurai kepadatan, terutama pada jam-jam puncak.
Pengamanan Nataru tahun ini dilakukan secara terpadu lintas sektor. Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menegaskan bahwa koordinasi antara Polri, TNI, kementerian terkait, pemerintah daerah,
dan operator transportasi menjadi kunci utama kelancaran pergerakan masyarakat.
“Ini adalah rangkaian pengaturan angkutan Nataru 2025–2026 untuk memastikan masyarakat dapat melaksanakan perjalanan dan perayaan Natal serta Tahun Baru dengan aman, selamat, dan lancar,” kata Dudy.
Ia mengimbau masyarakat agar merencanakan perjalanan dengan baik dan memanfaatkan kanal informasi resmi. Informasi cuaca dari BMKG serta pembaruan kondisi lalu lintas melalui aplikasi seperti Travoy diharapkan menjadi acuan sebelum dan selama perjalanan.
“Kami berharap masyarakat tidak memaksakan perjalanan apabila kondisi cuaca tidak memungkinkan, sehingga risiko dapat diminimalkan,” ujarnya.
Berdasarkan survei Kementerian Perhubungan, pergerakan masyarakat selama libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 diperkirakan mencapai 119,5 juta orang, meningkat sekitar 7,97 persen atau 8,83 juta orang dibandingkan tahun sebelumnya. Lonjakan ini menjadi tantangan besar bagi aparat dalam menjaga keselamatan dan kelancaran arus.
Untuk itu, Polri menggelar Operasi Kepolisian Terpusat Lilin 2025 selama 14 hari, mulai 20 Desember 2025 hingga 2 Januari 2026.
Operasi ini melibatkan 146.701 personel gabungan dari Polri, TNI, dan instansi terkait, serta didukung 2.903 pos pengamanan, pelayanan, dan pos terpadu yang disiagakan di lebih dari 44 ribu objek vital, mulai dari gereja, pusat perbelanjaan, terminal, stasiun, pelabuhan, bandara, hingga lokasi wisata dan perayaan malam tahun baru. (rmg/xan)