SATELITNEWS.COM, JAKARTA—Realisasi investasi Indonesia mencapai Rp1.010,6 triliun pada semester I-2026 atau 49,5 persen dari target investasi tahun ini sebesar Rp2.041,3 triliun. Meski lajunya mulai melambat dibandingkan pertumbuhan investasi pada 2025, realisasi tersebut tetap tumbuh 7,2 persen secara tahunan.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Roeslani mengatakan capaian tersebut telah memenuhi hampir separuh target investasi pemerintah sepanjang 2026.
“Dari target 2026 sebesar Rp2.041,3 triliun, hingga Juni pencapaian investasi sudah mencapai Rp1.010,6 triliun dengan peningkatan 7,2 persen secara year on year,” kata Rosan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (16/7).
Secara kuartalan, realisasi investasi pada April—Juni 2026 mencapai Rp511,8 triliun atau naik 7,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Angka tersebut meningkat dibandingkan kuartal I yang sebesar Rp498,8 triliun, tetapi pertumbuhannya masih lebih rendah dibandingkan kuartal II-2025 yang mencapai 11,5 persen.
Dari sisi ketenagakerjaan, investasi sepanjang semester I-2026 menyerap 1.448.862 tenaga kerja atau meningkat 15 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pada kuartal II saja, jumlah tenaga kerja yang terserap mencapai 742.293 orang atau naik 5,1 persen secara tahunan.
Di tengah perlambatan pertumbuhan investasi, program hilirisasi atau pembangunan industri pengolahan bahan mentah menjadi produk bernilai tambah masih menjadi penggerak utama. Hingga akhir Juni, investasi di sektor tersebut mencapai Rp300,1 triliun atau tumbuh 6,9 persen secara tahunan. Nilainya menyumbang 29,7 persen dari total investasi nasional.
Baca Juga: DPMPTSP Kota Tangerang Optimistis Capai Target 2026, Investasi Triwulan I Tembus Rp5,45 Triliun
“Kontribusi investasi di bidang hilirisasi ini mencapai hampir 30 persen atau 29,7 persen. Peningkatan 6,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya,” ujar Rosan.
Sektor mineral masih menjadi penyumbang terbesar investasi hilirisasi dengan nilai Rp206,5 triliun. Dominasi tersebut menunjukkan investasi hilirisasi masih terkonsentrasi pada pengolahan sumber daya alam, terutama komoditas mineral.
Pada kuartal II, terjadi perubahan komposisi ketika bauksit untuk pertama kalinya menggeser nikel sebagai komoditas dengan investasi hilirisasi terbesar. Investasi hilirisasi bauksit mencapai Rp40,1 triliun, didorong pembangunan sejumlah fasilitas pengolahan baru.
Selain mineral, investasi hilirisasi juga masuk ke sektor perkebunan dan kehutanan serta minyak dan gas bumi. Namun, sebagian besar investasi masih terkonsentrasi pada sektor berbasis sumber daya alam. Dari sisi wilayah, 75,7 persen investasi hilirisasi atau sekitar Rp227,3 triliun berada di luar Pulau Jawa.
Perubahan pola investasi juga terlihat dari asal modal asing. Untuk pertama kalinya dalam 10 tahun terakhir, Hong Kong menjadi sumber investasi asing terbesar ke Indonesia pada kuartal II-2026 dengan nilai US$5 miliar, menggeser Singapura yang mencatat US$4,2 miliar.
Posisi berikutnya ditempati Tiongkok sebesar US$1,7 miliar, Jepang US$0,9 miliar, dan Malaysia US$0,7 miliar. Lima negara tersebut menyumbang 79,6 persen dari total investasi asing pada periode tersebut.
Baca Juga: DPMPTSP Kabupaten Serang Berharap Investasi Tak Terganggu Penetapan LBS
“Dalam kuartal II ini untuk pertama kalinya dalam 10 tahun terakhir, investasi China lebih agresif melalui Hong Kong sehingga posisi pertama ditempati Hong Kong,” ujar Rosan.
Menurut Rosan, posisi Hong Kong sebagai investor terbesar tidak selalu berarti seluruh modal berasal dari wilayah tersebut. Banyak perusahaan menggunakan pusat keuangan regional seperti Hong Kong dan Singapura sebagai jalur penanaman modal.
“Kita catat berdasarkan negara asal masuknya investasi, tetapi itu belum tentu asal modalnya dari negara tersebut,” jelasnya.
Secara kumulatif pada semester I-2026, Singapura masih menjadi investor terbesar di Indonesia dengan nilai US$8,8 miliar. Berikutnya adalah Hong Kong sebesar US$7,6 miliar, Tiongkok US$3,9 miliar, Jepang US$1,9 miliar, dan Amerika Serikat US$1,7 miliar.
Dari sisi sumber modal, Penanaman Modal Asing (PMA) mencapai Rp507,6 triliun, sedangkan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp502,9 triliun. Sebaran investasi juga relatif merata, dengan investasi di luar Jawa sedikit lebih besar dibandingkan di Pulau Jawa.
Perkembangan tersebut memperlihatkan hilirisasi masih menjadi daya tarik utama investasi Indonesia, terutama untuk proyek pengolahan mineral di luar Pulau Jawa. (rmg/xan)




























