SATELITNEWS.COM, LEBAK – Menurunnya rasa nasionalisme di kalangan Generasi Z (Gen Z) menjadi perhatian serius anggota MPR RI Fraksi Partai Golkar, Adde Rosi Khoerunnisa. Berdasarkan hasil survei yang dirilis Populis ID pada Juli 2025, sekitar 65 persen Gen Z disebut mengalami krisis nasionalisme. Kondisi tersebut dinilai menjadi alarm bagi seluruh elemen bangsa agar semakin memperkuat pendidikan karakter dan nilai-nilai kebangsaan.
Persoalan itu mengemuka dalam kegiatan evaluasi dan penguatan program MPR RI yang digelar di Gedung PGRI Rangkasbitung, Rabu (5/8/2026). Kegiatan tersebut diikuti ratusan peserta dari kalangan mahasiswa, pelajar, organisasi kepemudaan hingga kader Posyandu yang diajak berdiskusi mengenai pentingnya menjaga empat pilar kebangsaan di tengah derasnya arus globalisasi.
Adde Rosi mengatakan, sebagai anggota MPR RI dirinya memiliki tanggung jawab untuk terus menyosialisasikan Empat Pilar Kebangsaan yang meliputi Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika kepada seluruh lapisan masyarakat, terutama generasi muda. “Data itu menjadi trigger bagi kami untuk terus turun ke sekolah, kampus, maupun organisasi masyarakat. Jangan sampai generasi muda kehilangan jati dirinya sebagai bangsa Indonesia,” katanya.
Menurutnya, pemahaman terhadap Pancasila tidak boleh berhenti sebatas hafalan. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya harus mampu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari sikap saling menghormati, menjaga persatuan, hingga menumbuhkan kepedulian terhadap sesama.
Politisi Partai Golkar itu mengaku masih menemukan pelajar yang belum hafal Pancasila maupun Pembukaan UUD 1945 saat melakukan sosialisasi di sejumlah sekolah. Kondisi tersebut menjadi indikasi bahwa penguatan pendidikan karakter dan wawasan kebangsaan perlu kembali diperkuat. “Dulu hampir semua anak sekolah hafal Pancasila. Sekarang, mohon maaf, saya masih menemukan ada yang belum hafal. Padahal kita adalah negara yang berdiri di atas dasar Pancasila. Sangat disayangkan jika generasi penerus tidak memahami dasar negaranya sendiri,” ujarnya.
Adde Rosi menilai perkembangan teknologi informasi dan derasnya pengaruh budaya luar menjadi tantangan tersendiri bagi generasi muda. Kemudahan mengakses berbagai informasi dinilai harus diimbangi dengan pendidikan karakter agar tidak menggerus rasa cinta terhadap bangsa dan negara.
Baca Juga: 2027, Jalan Poros Desa di Lebak Bakal Dapat Penanganan Lebih Besar
Menurutnya, momentum peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia pada Agustus ini harus dijadikan sarana untuk kembali menumbuhkan semangat nasionalisme melalui berbagai kegiatan positif yang melibatkan masyarakat hingga ke tingkat desa. “Momen Agustus harus menjadi pengingat bagi kita semua untuk terus mencintai bangsa ini. Jangan sampai nasionalisme generasi muda semakin luntur karena pengaruh perkembangan zaman,” tuturnya.
Selain lingkungan sekolah, Adde Rosi juga menilai keluarga memiliki peran besar dalam membentuk karakter anak sejak usia dini. Karena itu, kader Posyandu yang bersentuhan langsung dengan masyarakat juga diajak menjadi bagian dari upaya menanamkan nilai-nilai Pancasila di lingkungan keluarga. “Saya harap persoalan menurutnya rasa nasionalisme di kalangan gen z ini harus kita cegah bersama-sama,”tandasnya.
Sementara, salah seorang peserta, Sopian, pemuda asal Desa Pajangan, Kecamatan Sajira, Kabupaten Lebak, mengaku kegiatan yang diikuti tersebut membuka kembali pemahamannya mengenai pentingnya menjaga nilai-nilai kebangsaan di tengah derasnya perkembangan teknologi dan media sosial.
Menurutnya, generasi muda saat ini membutuhkan ruang diskusi yang mampu mengingatkan kembali pentingnya mencintai bangsa dan negara. Sebab, derasnya arus informasi melalui media sosial kerap membuat anak muda lebih mengenal budaya luar dibandingkan memahami nilai-nilai yang menjadi jati diri bangsa Indonesia.
“Kegiatan seperti ini sangat bermanfaat bagi kami. Banyak hal yang sebelumnya belum saya pahami menjadi lebih jelas, terutama mengenai pentingnya mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Nasionalisme bukan hanya soal menghafal Pancasila, tetapi bagaimana kita menjaga persatuan, menghargai perbedaan, dan ikut berkontribusi membangun daerah maupun negara,” ujar Sopian.
Iya berharap sosialisasi Empat Pilar MPR RI tidak hanya dilaksanakan di perkotaan, tetapi juga terus menyasar desa-desa sehingga semakin banyak generasi muda yang memahami pentingnya menjaga persatuan dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi maupun paham yang dapat memecah belah bangsa. “Saya berharap kegiatan seperti ini lebih sering dilakukan karena manfaatnya sangat besar. Dengan begitu, generasi muda akan semakin memahami perannya sebagai penerus bangsa dan memiliki rasa cinta tanah air yang lebih kuat,” tandasnya.(mulyana)
Baca Juga: Jalan Lurus Jadi Jebakan Maut, Polres Lebak Minta Sopir Waspada




















