SATELITNEWS.COM, SERANG – Klaim asuransi atau ganti rugi bagi 420 korban Kapal Motor Penyebrangan (KMP) Batumandi, hingga saat ini mencapai Rp1,39 Miliar. Proses itu masih berlanjut, karena pengajuan pembayaran belum rampung sepenuhnya.
Corporate Secretary PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) Indonesia Ferry, Windy Andale mengatakan, hingga saat ini proses klaim asuransi masih berjalan dan belum selesai sepenuhnya. Berdasarkan data yang ada, kata dia, proses klaim asuransi yang sudah terbayarkan sekira Rp1,39 Miliar.
“Pembayaran klaim telah mencapai Rp1,39 Miliar, termasuk klaim atas empat kendaraan yang telah diselesaikan. Pengajuan lainnya, masih melalui proses verifikasi dan administrasi sesuai ketentuan pertanggungan yang berlaku,” katanya, Selasa (27/10/2026).
Windy menjelaskan, pendampingan dan penyelesaian klaim penumpang dari sisi penanganan penumpang, seluruh pengguna jasa yang sebelumnya menjalani perawatan di rumah sakit, telah kembali ke kediaman masing-masing.
Pihaknya tetap melanjutkan pendampingan bagi penumpang terdampak, sesuai kebutuhan sebagai bagian dari pelayanan pascainsiden. Penyelesaian klaim kendaraan dan barang, juga terus berjalan bersama PT Jasa Raharja Putera selaku pihak asuransi.
ASDP terus mengawal perkembangan penanganan Kapal Ferry Batumandi bersama regulator, otoritas pelabuhan, dan instansi terkait sesuai kewenangan masing-masing, agar setiap tahapan dapat dilaksanakan secara terukur dan bertanggung jawab.
Baca Juga: KMP Batumandi Tenggelam, Investigasi Pascakebakaran Tidak Bisa Dilakukan
“Kami memahami, bahwa penanganan pascainsiden membutuhkan proses yang menyeluruh. Karena itu, ASDP akan terus mengawal setiap perkembangan sesuai kewenangan perusahaan, termasuk pendampingan pengguna jasa dan persiapan penanganan kapal,” ujarnya.
“Kami ingin memastikan setiap tahapan dilakukan secara cermat, dengan keselamatan dan kepentingan masyarakat tetap menjadi prioritas,” sambungnya.
Selain pembayaran premi asuransi, kata dia, PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) juga terus menjalankan langkah penanganan pascainsiden KMP Batumandi melalui pengamanan lokasi, pendampingan pengguna jasa, dan persiapan penanganan lanjutan kapal.
Hingga Senin (26/10/2026), pelampung penanda bahaya navigasi (buoy) telah dipasang oleh Distrik Navigasi Tanjung Priok. Sementara penghalang minyak (oil boom), telah terpasang melalui dukungan Pertamina Gerem dan Pertamina Sekong.
Langkah tersebut, dilakukan untuk menjaga keselamatan pelayaran sekaligus mengantisipasi potensi dampak lingkungan di sekitar lokasi kejadian.
“Penanganan KMP Batumandi, terus menjadi perhatian kami, baik dari sisi keselamatan pelayaran, perlindungan lingkungan, maupun kepentingan pengguna jasa,” tuturnya.
Baca Juga: Seluruh Penumpang KMP Batumandi Selamat, Kerugian Materil Masih Dihitung
“Pemasangan buoy dan oil boom, merupakan perkembangan konkret dalam pengamanan lokasi. Sementara persiapan penanganan lanjutan kapal, terus berjalan melalui koordinasi dengan pihak berwenang,” timpalnya.
Dia menjelaskan, Buoy merupakan pelampung penanda yang memberikan petunjuk visual bagi kapal mengenai lokasi atau potensi bahaya navigasi. Tujuannya, untuk membantu kapal yang melintas mengenali area yang memerlukan kewaspadaan khusus.
Sementara itu, oil boom, berupa penghalang terapung yang berfungsi membatasi penyebaran minyak di permukaan air apabila terjadi kebocoran.
Sejalan dengan pengamanan lokasi, persiapan salvage atau penanganan dan pengangkatan bangkai kapal, kini berada pada tahap evaluasi teknis, penelaahan metode pengangkatan, serta penilaian risiko.
“Hasil kajian tersebut, akan menjadi pertimbangan dalam menentukan langkah penanganan berikutnya, dengan memperhatikan kondisi kapal, keselamatan pelayaran, dan perlindungan lingkungan,” paparnya.
Sebelumnya diberitakan, Kapal Motor Penumpang (KMP) Batumandi tenggelam usai terbakar hebat di perairan Merak, Rabu (21/10/2026) sekira pukul 21.00 WIB. Akibat hal itu, proses investigaai kapal milik PT ASDP Indonesia Ferry tidak bisa dilakukan oleh tim penyidik.
Informasi yang berhasil didapat, KMP Batu Mandi yang sebelumnya mengalami kebakaran di sekitar perairan Merak, pada Rabu (21/10/2026) sekitar pukul 21.00 WIB, terlihat semakin tenggelam pada bagian buritan dan kemudian miring ke arah kiri hingga akhirnya terbalik. Peristiwa tersebut diduga disebabkan oleh ketidakstabilan badan kapal pasca kebakaran.
Kabid Humas Polda Banten Kombespol Maruli Ahiles Hutapea mengatakan, bahwa berdasarkan kronologis kejadian, pada Rabu (21/10/2026) sekitar pukul 21.30 WIB, kapal patroli polisi KP. XXIII-2013 sedang melaksanakan kegiatan pengamanan terhadap KMP Batu Mandi yang terbakar di sekitar perairan Merak.
“Sekitar pukul 21.00 WIB, posisi buritan kapal terlihat semakin tenggelam hingga kapal miring ke arah kiri dan akhirnya terbalik. Adapun lokasi kejadian berada pada koordinat 5° 56″ 620′ LS – 105° 59″ 548′ BT,” katanya. (adib)

















