SATELITNEWS.ID, JAKARTA–Pertambahan kasus Covid-19 dalam sehari melonjak makin parah. Dalam sehari bertambah 8.369 kasus positif. Sehingga kini sudah 557.877 orang terkonfirmasi positif Covid-19.
Ada pergeseran data provinsi yang berbeda pada Kamis (3/12) dalam kasus harian tertinggi. Kali ini Papua mencatat provinsi dengan rekor tertinggi. Lalu disusul Jawa Barat. Baru kemudian DKI Jakarta. Kemudian Jawa Tengah dan posisi 5 besar terakhir ditempati Jawa Timur.
Dalam sehari Papua menyumbang 1.755 kasus baru. Kondisi ini membuat angka kasus nasional naik drastis ke angka 8.369 kasus dalam sehari. Lalu disusul juga kasus tertinggi kedua disumbang oleh Jawa Barat yakni sebanyak 1.648 kasus sehari.
Lalu barulah DKI Jakarta di posisi ketiga kasus harian terbanyak yakni 1.153 dalam sehari. Kemudian disusul Jawa Tengah 767 kasus. Dan Jawa Timur 564 kasus.
Sudah 507 kabupaten kota terdampak kasus Covid-19. Dan ada 3 provinsi di bawah 10 kasus. Serta tak ada satupun provinsi mencatat nol kasus.
Dalam sehari ada 62.397 spesimen yang diuji. Melonjak 2 kali lipat dari target testing oleh Presiden Joko Widodo yang menargetkan 30 ribu sehari. Total pasien berstatus suspek sebanyak 69.027 orang.
Sementara itu, pasien sembuh bertambah 3.673 dalam sehari. Paling banyak angka kesembuhan harian bertambah sebanyak 973 orang di provinsi DKI Jakarta. Kini total sudah 462.553 orang sembuh dari Covid-19.
Sedangkan, angka kematian bertambah 156 jiwa dalam sehari. Paling banyak kasus kematian terjadi di DKI Jakarta sebanyak 26 jiwa. Kini total sudah 17.355 jiwa meninggal dunia akibat Covid-19.
Angka pecah rekor kali ini paling tinggi selama pandemi masuk ke Indonesia sejak Maret 2020. Terakhir pecah telor sempat menyentuh angka 6.267 kasus pada 29 November lalu.
Juru Bicara Pemerintah Untuk Covid-19 Prof Wiku Adisasmito menjelaskan, saat ini pemerintah sedang meningkatkan kecocokan data Covid-19. Berdasarkan hasil konsolidasi Pemerintah Daerah dengan Kemenkes, ada beberapa provinsi yang memiliki perbedaan data dengan pusat.
“Contoh Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Papua. Berdasarkan data Kemenkes, pada hari ini terdapat penambahan kasus sangat signifikan, 8.369 kasus. Angka yang sangat tinggi ini salah satunya disebabkan karena sistem yang belum optimal untuk akomodasi pencatatan, pelaporan, dan validasi data dari provinsi secara real time,” kata Prof Wiku, Kamis (3/12).
Contohnya, kata dia, Papua melaporkan 1.755 kasus. Data itu ternyata merupakan akumulasi penambahan kasus positif sejak 19 November hingga hari ini.
“Kepada Pemda yang masih punya perbedaan data kami imbau konsolidasi data dengan pemerintah pusat dan pemda sesegera mungkin,” tegasnya.
Kemudian berdasarkan data website resmi bersatu lawan Covid-19 untuk perubahan perilaku yang dapat diakses publik, pemantauan kedisiplinan protokol kesehatan sejak 18 November sempat fluktuatif di sekitar minggu keempat November. Prof Wiku menyesalkan tren penurunan terkait kepatuhan individu terlihat dalam ketidakpatuhan memakai masker dan menjaga jarak serta hindari kerumunan. Hal ini bertepatan dengan periode libur panjang 28 Oktober hingga 1 November.
Prof Wiku menegaskan kasus positif harian yang semakin tinggi tak bisa lagi ditoleransi. Dia mengingatkan agar masyarakat tidak lalai pada protokol kesehatan bahwa laju penularan masih meningkat.
“Sebelumnya kita belum pernah mencapai angka di atas 5 ribu untuk angka kasus positif harian. Sayangnya, penambahan positif harian terus meningkat, bahkan hari ini menembus lebih dari 8 ribu kasus. Ini adalah angka yang sangat besar dan tdk bs ditolerir. Mohon diperhatikan bahwa terus meningkatnya angka kasus positif ini menandakan bahwa laju penularan masih terus meningkat,” tandasnya.
Sementara itu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan, saat ini sudah ada hasil positif terkait penanganan pemerintah terhadap pandemi Covid-19 selama 9 bulan terakhir. Karena menurutnya selama ini pemerintah tetap menjaga keseimbangan antara rem dan gas terkait pandemi di Indonesia.
“Itu karena pemerintah tetap menjaga keseimbangan antara rem dan gas terkait pandemi di tanah air ini,” ujar Jokowi dalam pidatonya yang ditayangkan lewat YouTube Bank Indonesia (BI), Kamis (3/12).
Menurutnya, kerja keras tersebut mulai menampakkan hasil. Sinyal positif pun sudah mulai terlihat. “Alhamdulillah laporan yang saya terima per hari ini kasus aktif Covid-19 di Indonesia lebih rendah dari rata-rata dunia. Indonesia memiliki kasus aktif sebesar 12,72 persen, sedangkan rata-rata dunia 28,04 persen,” ujarnya.
Kemudian, tingkat kesembuhan juga semakin membaik, mencapai angka 84,02 persen. Lebih baik dari angka kesembuhan rata-rata dunia sebesar 69,56 persen.
Sinyal positif perekonomian juga sudah cukup membaik. Kerja keras banyak pihak mulai menampakkan hasil. Pada triwulan kedua 2020, ekonomi di Indonesia terkontraksi -5,32 persen dan pada triwulan ketiga 2020 perekonomian tanah air terkontraksi -3,49 persen.
“Artinya telah melewati titik terendahnya, titik balik menuju membaik. Tren positif membaik, dan dengan momentum ini saya yakin kita akan bergerak lagi ke arah positif di triwulan keempat dan seterusnya,” katanya.
Sejalan dengan ini industri pengolahan yang merupakan kontributor terbesar PDB juga menunjukkan perbaikan di Oktober 2020. Perbaikan didukung oleh peningkatan impor bahan baku dan barang modal di bulan Oktober.
“Kemudian, neraca perdagangan yang mengalami surplus 8 miliar USD di triwulan ketiga 2020 turut mendukung ketahanan sektor eksternal,” ungkapnya.
Sementara, dari sisi pasar modal dan keuangan kinerja IHSG dan nilai tukar rupiah menunjukkan peningkatan hingga mencapai level masing-masing IHSG di 5.522 dan kurs rupiah ke dolar AS, Rp 14.050 per 17 November 2020.
Perbaikan kinerja IHSG terdorong oleh peningkatan indeks saham sektoral. Sektor industri dasar mengalami pemulihan indeks saham terbesar sejak penurunan tajam di 24 Maret 2020 lalu.
Jokowi juga mengatakan, Indonesia harus bergerak cepat karena masih banyak pekerjaan rumah (PR) yang belum diselesaikan. Indonesia masih akan dihadapkan pada besarnya jumlah pengangguran akibat PHK di masa pandemi.
“Kemudian Indonesia juga bakal menghadapi besarnya angkatan kerja yang memerlukan lapangan pekerjaan,” tuturnya.
Selain itu, dalam situasi krisis seperti ini semua pihak harus mampu bergerak cepat dan tepat. Buang jauh-jauh ego sektoral, sentrisme lembaga, dan jangan membangun tembok tinggi berlindung di balik otoritas masing-masing.
“Kita harus berbagai beban, berbagi tanggung jawab untuk urusan bangsa dan negara ini agar negara kita mampu bertransformasi menjadi kekuatan ekonomi baru di tingkat regional dan global,” pungkasnya. (jpg/gatot)