SATELITNEWS.ID, SERANG–Pernyataan Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dewi Korita, yang disampaikan pada Rapat Kerja (Raker) dengan Komisi V DPR-RI, Rabu, (1/12/2021) lalu, terkait ancaman Tsunami 8 meter di Cilegon (SeLat Sunda), dinilai meresahkan.
Karena tanpa disadari, pernyataan itu dianggap menimbulkan kerugian yang luar biasa, khususnya bagi para pelaku usaha jasa pariwisata, terutama di wilayah Anyer, Cinangka dan sekitarnya.
Kepala Bidang (Kabid) Pemasaran dan Kemitraan Usaha Jasa Pariwisata, Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Serang, Eeng Kosasih mengatakan, sejak pernyataan itu viral banyak tamu hotel melakukan pembatalan (cancel).
“Diperkirakan para pelaku usaha jasa pariwisata, mengalami kerugian mencapai puluhan bahkan ratusan milyar rupiah,” kata Eeng, Jumat (3/12/2021).
Belum lagi kata Eeng, keresahan itu juga dirasakan oleh masyarakat yang ada disekitar pesisir pantai. Seharusnya, Kepala BMKG Dewi Korita, bersikap lebih tenang dan dapat mengedukasi masyarakat secara elegan, dan memikirkan dampak sosial, ekonomi, khususnya para pelaku usaha jasa priwisata.
“Setelah hampir 2 tahun, dampak Covid-19 ini menghantam semua sektor usaha, tak terkecuali usaha jasa pariwisata, hotel banyak yang tutup, kemudian mulai bangkit lagi,” tuturnya.
Baca Juga: Bedolan Pamarayan Kabupaten Serang, Tradisi Turun Temurun yang Dinanti Masyarakat
Untuk membangkitkan sektor usaha jasa pariwisata setelah pandemi, kata Eeng, pihaknya dari pemerintah terus berkolaborasi dengan para pelaku usaha jasa pariwisata, terus bebenah dan memperbaiki fasilitas, serta mendukung program Pemerintah Pusat melengkapi sarana prokes, menyiapkan aplikasi Peduli Lindungi, pengunjung harus vaksin minimal dosis ke I dan lain lain.
Namun rasanya, perjuangan itu sangat sia-sia ketika Ketua BMKG Dewi Korita, merilis pernyataannya, yang dinilai sangat menyakitkan bagi para pelaku usaha jasa pariwisata.
“Dampak terburuknya, pegawai hotel bisa di rumahkan kembali. Lagi-lagi yang dirugikan jasa tenaga kerja,” ujarnya.
Padahal ilmu pengetahuan dan tekhnologi, menurut Eeng, sampai saat ini belum dapat menemukan alat canggih untuk dapat mendeteksi kapan dan dimana tsunami akan datang. Hanya prediksi dan perkiraan saja.
Sekarang, ketika berita sudah viral. BMKG mulai mengklarifikasi pernyataan pimpinannya, bahwa statement itu maksudnya hanya prediksi dan mempersiapkan kewaspadaan saja.
“Maksudnya sih baik. Tapi cara menyampaikannya yang salah, baik belum tentu tepat dan baik belum tentu benar. Pelajaran buat kita semua, pejabat publik itu harus dapat mengolah informasi dan mengontrol statemennya sebaik mungkin. Agar tidak menimbulkan dampak buruk yang lebih luas. Karena ini menyangkut pariwisata, semoga Mas Menteri Sandiaga Salahudin Uno, dapat mengcounter pemberitaan ini dengan baik,” imbuhnya. (sidik)
Baca Juga: Wujudkan Smart City, Diskominfosatik Kabupaten Serang Akan Bina 326 Desa

















