SATELITNEWS.COM, TANGSEL—Puluhan bangunan liar yang berada di kawasan Roxy Jalan Ir Juanda, Kecamatan Ciputat Kota Tangerang Selatan masih dalam proses pembongkaran secara mandiri. Sejumlah bangunan permanen tampak rata dengan tanah meskipun ada juga yang belum dibongkar oleh pemiliknya.
Padahal batas waktu pembongkaran sudah habis. Diketahui, Pemkot Tangsel memberikan tenggat waktu selama lima hari sejak Senin (23/6) lalu kepada pemilik bangunan agar mengangkut barang-barang miliknya.
Muhamad Haris (50), salah satu warga yang mendirikan bangunan liar di lahan tersebut mengaku sampai saat ini masih berharap penuh oleh Pemkot Tangsel. Bagaimana tidak, saat eksekusi dilakukan ia dijanjikan relokasi tempat tinggal khususnya bagi anak-anak yatim yang dia rawat.
Sebelumnya, Pemkot Tangsel sempat menjanjikan bahwa warga ber-KTP Tangsel akan dialokasikan ke rumah susun. Bahkan, ada rencana untuk memindahkan anak-anak penghuni lahan ke panti asuhan. Namun hingga berita ini diturunkan, tak ada satu pun langkah nyata yang terlihat.
“Ya dari mana hadirnya mereka sampai saat ini? Bahwa yang punya KTP Tangsel akan dibantu, alokasikan ke rusun, yang jelas ngga ada tindak lanjut mau bantu saya di sini buat alokasikan anak-anak biar mereka tetap mendapat hak hidup untuk mendapatkan pendidikan atau yang lain-lain,” ujarnya saat ditemui.
Menurut Haris, selain anak-anak, masih banyak warga dewasa yang juga bertahan di lokasi karena tak memiliki alternatif tempat tinggal. Haris juga mengaku telah menjual sebagian aset pribadinya demi membantu para warga yang terdampak, termasuk para janda dan anak-anak yang hidup dari hasil memulung.
Baca Juga: Sepeda Motor Kawasaki Ninja RR Dicuri dari Garasi Rumah di Ciputat
“Yang perlu diperhatikan adalah hadirnya pemerintah buat rakyat kecil yang mereka juga sama-sama dengan kita nempang hidup. Mencari makan, mencari nafkah buat anak-anak mereka ini. Hadirnya atau pemerintah itu di mana. Sedangkan ya, mereka buat makanan aja susah,” katanya.
Haris menyayangkan eksekusi yang dilakukan tidak tebang pilih antara sarana pendidikan dengan tempat karaoke hingga diduga terindikasi miras dan prostitusi. Harusnya, kata dia, tempatnya yang menjadi sarana pendidikan bagi anak-anak yang tidak mampu menempuh pendidikan secara formal diberikan kesempatan.
“Jadi disayangkan aja. Nah dia ini kan tempat ngaji sama tempat belajar disini. Cuma ini semua saya pertahankan, terserah. Mereka mau pake buat ibadah, sholat, monggo. Mereka mau pake ke kantor, ya silahkan saya belajar dengan ikhlas,” ucapnya.
Kata Haris, jumlah total anak-anak sebelumnya sekitar 40 orang. Namun, setelah adanya eksekusi paksa para anak yatim dipulangkan apabila masih memiliki kerabat di kampung. Aktivitas pembelajaran selama 15 tahun bagi anak-anak juga melibatkan para mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
“Kurang lebih kalau kita kumpulin semua anak-anak adik-adik kita, karena mereka masih ada yang tinggal sebagian sama orang tuanya, mereka kita jemput sama adik-adik kita yang dari UIN yang membantu. Disini kurang lebih ada hampir 40-an,” paparnya.
“Dari itu ada yang udah berpencar. Kita memang ada alokasikan yang mungkin masih ada saudaranya di kampung atau kayak gimana. Cuma yang beratnya kita kan begini loh. Sebagian tuh sekolahnya di lingkungan sini. Jadi putus sekolah gitu sebagian,” sambungnya.
Baca Juga: Perkuat Kemandirian, Pemerintah Desa di Banten Didorong Manfaatkan Lahan Tidur
Di lokasi, masih terdapat ruangan yang dijadikan tempat belajar informal dan tempat mengaji bagi anak-anak hingga kamar tidur. Meski fasilitasnya sangat sederhana, Haris menegaskan akan tetap mempertahankannya selama dirinya bisa. (eko)

















