SATELITNEWS.COM, JAKARTA–Pemerintah berencana memperluas program Cek Kesehatan Gratis (CKG) ke kantor dan komunitas. Selama ini, layanan CKG mayoritas tersedia di puskesmas, tetapi skema baru memungkinkan nantinya pemeriksaan dilakukan langsung di tempat kerja atau komunitas.
Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono, mengatakan rencana ini masih dalam tahap persiapan dan akan didukung oleh sistem teknologi informasi (IT) baru. “Kalau sistem IT-nya siap awal bulan depan, kita bisa mulai masuk ke komunitas,” ujarnya saat meninjau CKG di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Mulia 3, Gandaria, Jakarta Selatan, Kamis (6/11/2025).
Dante menambahkan, model pemeriksaan ini meniru konsep sentra vaksinasi COVID-19 sebelumnya, sehingga lokasi CKG tidak lagi terbatas pada puskesmas atau klinik. “Seperti waktu kita Covid-19 dulu lah, kan semua orang bergerak untuk cek kesehatan gratis. Nanti, ini kita sedang perbaiki sistemnya. Sistem ini kan baru, belum ada setahun kan,” ucapnya.
Meski persiapan perluasan berjalan, penginputan data masih menjadi kendala di beberapa daerah. Dante mengakui adanya hambatan terutama di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). “Antrean input data sudah selesai di daerah 3T,” ujarnya.
Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas, Maria Endang Sumiwi, menjelaskan bahwa antrean sempat menumpuk karena kapasitas sistem awalnya hanya 4 miliar record. “Saat ini kapasitas sistem sudah ditingkatkan hingga 9 triliun record, sehingga antrean data di daerah 3T sudah terselesaikan,” kata Maria.
Selain itu, beberapa masalah tetap muncul terkait peserta tanpa identitas atau NIK yang bermasalah. Di Serang, Banten, 16 puskesmas melaporkan kesulitan mencatat data peserta yang tidak memiliki identitas.
Baca Juga: 74,2 Persen Publik Percaya Pemerintahan Prabowo
“Kalau peserta tidak punya identitas, bagaimana cara inputnya masih menjadi pekerjaan rumah Kemenkes,” ujar Eka Agustina, Administrator Kesehatan Ahli Madya Dinkes Kota Serang.
Ia menambahkan, untuk anak sekolah, pelaksanaan CKG hampir 100 persen, tetapi data yang masuk aplikasi baru sekitar 30 persen.
Data CKG juga mengungkapkan kondisi kesehatan masyarakat di tiap kelompok usia. Menurut Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, hampir seluruh peserta dewasa yang diperiksa kurang aktivitas fisik, mencapai 96 persen.
Temuan lain meliputi karies gigi 41,9 persen, obesitas sentral 32,9 persen, dan overweight/obesitas 24,4 persen. “Penyakit tidak menular masih menjadi ancaman utama bagi kelompok produktif,” ujarnya pada Rabu (05/11/2025).
Untuk kelompok usia lain, temuan menunjukkan masalah yang beragam. Bayi baru lahir memiliki risiko kelainan saluran empedu 18,6 persen, berat badan lahir rendah 6,1 persen, dan penyakit jantung bawaan kritis 5,5 persen. Balita dan anak prasekolah sebagian besar mengalami masalah gigi tidak sehat (31,5 persen), stunting (5,3 persen), dan wasting (3,8 persen).
Sementara itu, remaja dan pelajar sebagian besar kurang aktivitas fisik (60,1 persen), karies gigi (50,3 persen), dan anemia (27,2 persen). Lansia tercatat 96,7 persen kurang aktivitas fisik dan 37,7 persen mengalami hipertensi.
Baca Juga: WFH Tiap Jumat Diperpanjang, Insentif Kuartal II Dipersiapkan
Hingga kini, sebanyak 50,5 juta masyarakat telah mengikuti CKG, termasuk 34,3 juta dewasa dan 16,2 juta siswa. Dari total 53,6 juta pendaftar, sebagian besar peserta telah menjalani pemeriksaan, meski pencatatan data belum sepenuhnya tuntas.
Dengan perluasan layanan ke kantor dan komunitas, Kemenkes menargetkan layanan CKG dapat dijalankan lebih merata, termasuk di wilayah yang sebelumnya sulit dijangkau. Sistem IT baru diharapkan mempermudah pencatatan data, sekaligus mendukung pemantauan kesehatan masyarakat secara lebih efektif. (rmg/san)
