SATELITNEWS.COM, TANGSEL-Pihak kepolisian memastikan penyebab meninggalnya siswa SMPN 19 Kota Tangerang Selatan (Tangsel) berinisial MH (13) bukan akibat tindak bullying disertai dengan kekerasan, melainkan karena tumor di bagian kepala.
Kapolres Tangerang Selatan AKBP Victor Daniel Henry Inkiriwang mengatakan, diagnosa tersebut diperoleh setelah pihak kepolisian melakukan penyelidikan secara menyeluruh dengan melibatkan saksi serta para ahli dari berbagai bidang.
“Kami sudah melakukan pemeriksaan terhadap saksi-saksi. Total ada 15 saksi, di mana 4 saksi dari pihak sekolah, itu kepala sekolah dan guru,” ujar Daniel dalam keterangan yang diterima, Minggu (4/1).
Para saksi tersebut terdiri dari empat orang pihak sekolah, yakni kepala sekolah dan guru, dua saksi dari Rumah Sakit Fatmawati, lima orang teman sekelas korban, satu saksi terduga pelaku, serta tiga saksi dari pihak orang tua dan keluarga korban.
Selain pemeriksaan saksi, polisi juga menerapkan metode scientific crime investigation dengan melibatkan enam orang ahli yang berkompeten. Para ahli tersebut antara lain dokter spesialis mata, dokter spesialis anak RS Fatmawati, dokter spesialis neurologi, dokter umum RS Columbia Asia BSD, dokter spesialis forensik RSUD Kota Tangerang Selatan, serta ahli pidana.
“Alasan kami melibatkan banyak ahli karena penyelidikan harus komprehensif dan berdasarkan bukti ilmiah. Kami ingin meluruskan penyebab kematian korban, rangkaian peristiwa di tempat kejadian perkara, dan hal-hal lain yang berkembang di masyarakat,” jelas Victor.
Baca Juga: DPRD Tangsel Desak Pemkot Ambil Langkah Tegas Benahi Soal Perundungan
Ahli Forensik dari RSUD Kabupaten Tangerang, Liauw Djai Yen lebih lanjut menuturkan penyebab kematian MH disimpulkan akibat tumor di bagian kepala yang memicu pendarahan. Pendarahan tersebut kemudian menyumbat aliran cairan di otak, sehingga menyebabkan gangguan pernapasan yang berujung pada kematian.
“Dapat disimpulkan bahwa sebab kematian dari pasien karena akibat sebuah tumor di bagian kepala. Bagian tumor itu kemudian menimbulkan pendarahan yang bisa dibilang pendarahan tersebut menyumbat saluran cairan di otak, itulah yang penyebab susah pernapasan yang akhir menyebabkan kematian,” paparnya.
“Dari hasil MRI ini, dari Rumah Sakit Fatmawati tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan,” sambungnya.
Kasat Reskrim Polres Tangerang Selatan AKP Wira Graha Setiawan berdasarkan hasil penyelidikan dan pemeriksaan barang bukti berupa resume medis, laporan klinik mata, serta hasil CT scan dari RS Permata Pamulang, polisi mengakui adanya peristiwa dorongan terhadap kepala korban sebagaimana keterangan saksi-saksi.
“Tetapi memang dari penyebab kematian yang dijelaskan ahli forensik, penyebab kemarin bukan karena dorongan dari kepala tersebut,” katanya.
Atas dasar hasil penyelidikan tersebut, pihak keluarga korban dan keluarga terduga pelaku sepakat menyelesaikan perkara melalui mekanisme mediasi. Kesepakatan itu dicapai pada 8 Desember 2025.
Baca Juga: Pemkot Tangsel Serahkan Penanganan Kasus Kematian Siswa SMPN 19 ke Polisi
Dalam mediasi tersebut, keluarga korban menerima santunan dan perhatian dari keluarga terduga pelaku serta Pemerintah Kota Tangerang Selatan. Dengan adanya kesepakatan tersebut, kepolisian resmi menghentikan penyelidikan dugaan kekerasan terhadap anak di SMPN 19 Kota Tangerang Selatan.
“Dari pihak keluarga terduga pelaku dan pihak keluarga korban, bersepakat untuk menyelesaikan perkara ini melalui mekanisme mediasi, perkara terhadap dugaan kekerasan terhadap anak di SMPN 19 kota Tangsel kita hentikan penyelidikannya,” ucapnya.
Sebagai informasi, seorang siswa SMPN 19 Tangsel berinisial MH (13) diduga menjadi korban tindakan bullying oleh teman sekelasnya. Akibat kekerasan fisik yang dialaminya, MH sempat menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta Selatan, karena mengalami gangguan saraf dan kelumpuhan sebagian tubuh.
MH pun dinyatakan meninggal dunia dalam perawatan rumah sakit, pada Minggu (16/11/2025) sekira pukul 07.00 WIB.
Peristiwa dugaan penganiayaan tragis ini terjadi pada Senin, 20 Oktober 2025, di ruang kelas saat jam istirahat. Menurut keterangan keluarga saat itu, MH dipukul menggunakan bangku besi di bagian kepala oleh teman sekelasnya. Akibat pukulan keras tersebut, kondisi korban langsung menurun drastis. (eko)

















