SATELITNEWS.COM, KARAWANG—Pemerintah mengklaim harga beras tetap terkendali di tengah kenaikan biaya logistik dan kemasan plastik. Pasokan nasional saat ini disebut berada di level sangat aman dan bahkan mencatat rekor tertinggi, yakni menembus 5,19 juta ton.
Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional Andi Amran Sulaiman mengatakan pemerintah tetap menjaga stabilitas harga beras melalui kebijakan yang telah ditetapkan, yakni distribusi beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) sebagai instrumen penyeimbang pasar serta penerapan HET (harga eceran tertinggi).
Menurutnya, harga beras SPHP tidak mengalami kenaikan dan tetap dipertahankan guna mengantisipasi potensi lonjakan harga di tingkat konsumen akibat berbagai faktor eksternal, termasuk kenaikan harga kemasan plastik.
Terkait penerapan HET, Amran mengatakan telah mengingatkan para pelaku pasar agar tidak menaikkan harga di atas ketentuan. “Kami minta seluruh teman-teman pedagang jangan menaikkan harga di atas HET,” kata Amran saat meninjau stok beras di gudang Perum Bulog Karawang, Jawa Barat, Kamis (23/4/2026).
Saat ini, HET beras medium ditetapkan Rp13.500 per kilogram dan premium Rp14.900 per kilogram. Sementara beras SPHP dijual Rp12.500 per kilogram di zona 1, Rp13.100 di zona 2, dan Rp13.500 di zona 3.
Menurut Amran, kebijakan harga tersebut mengacu pada data, termasuk kontribusi beras terhadap inflasi. Dalam dua tahun terakhir, kata dia, beras tidak lagi menjadi penyumbang utama inflasi nasional.
Baca Juga: Prabowo Kunci BBM Subsidi, Harga BBM dan LPG Subsidi Tetap
“Kita jangan pakai rasa, kita pakai rasio. Dulu beras selalu nomor satu, dua, tiga penyumbang inflasi. Sekarang bukan lagi, jadi kita pakai data. SPHP tidak kita naikkan,” ujarnya.
Ia juga menyebut kondisi pasokan saat ini tidak menunjukkan tekanan yang dapat mendorong kenaikan harga di tingkat pasar. “Alhamdulillah hari ini tanggal 23 April 2026, sekarang jam 9 kurang 5 menit, jam 8.55 WIB, stok beras seluruh Indonesia 5,19 juta ton. Ini adalah pertama, tidak pernah terjadi sepanjang sejarah. Ini sejarah pertama,” kata Amran.
Dengan stok Bulog tersebut, ditambah stok beras di hotel, restoran, dan kafe (horeka) serta rumah tangga yang mencapai 12,5 juta ton, serta beras di lahan siap panen (standing crop), stok beras nasional dinilai mampu mencukupi kebutuhan konsumsi hingga April tahun depan tanpa impor.
Ia menilai kondisi ini berbeda dengan beberapa tahun sebelumnya. Indonesia sempat mengimpor sekitar 7 juta ton beras sepanjang 2023–2024. Namun pada 2025 impor dihentikan, dan pemerintah menyatakan optimistis tidak akan melakukan impor pada 2026 seiring peningkatan produksi dalam negeri.
Seiring peningkatan produksi dan cadangan beras, kapasitas penyimpanan juga diperluas. Kapasitas gudang Bulog sekitar 3 juta ton, ditambah gudang sewa sekitar 2 juta ton yang kini hampir penuh. Pemerintah juga menambah gudang sewa sekitar 1 juta ton.
Kondisi stok dan kebijakan harga saat ini dinilai menjadi faktor utama dalam menjaga stabilitas beras di pasar. “Kondisi kita kuat. Tidak ada alasan harga beras naik,” kata Amran.
Baca Juga: Warga Tangsel Keluhkan Kenaikan Harga Pertamax
Dengan kondisi pasokan yang melimpah tersebut, ia menilai stabilitas harga juga perlu dijaga dari potensi distorsi di tingkat distribusi. Amran mencontohkan pengalaman pada komoditas minyak goreng yang sempat mengalami kenaikan harga meski Indonesia merupakan produsen terbesar dunia.
Ia menegaskan, pemerintah tidak akan membiarkan praktik spekulasi harga, serta akan melakukan pengawasan ketat terhadap produsen maupun distributor yang mencoba memainkan harga di pasar. Amran memastikan Satgas Pangan akan mengambil tindakan tegas terhadap pelanggaran.
Ia menyebutkan, saat ini terdapat 76 tersangka dalam kasus terkait perberasan, pupuk, hingga minyak goreng merek Minyakita yang secara keseluruhan merugikan petani hingga Rp3,3 triliun.
Dengan stok beras nasional saat ini, Amran menyebut pemerintah membuka peluang ekspor. Salah satunya, rencana pengiriman 200.000 ton beras ke Malaysia. Sebelumnya, Indonesia telah mengekspor 10.000 ton beras ke Palestina sebagai bantuan kemanusiaan. Selain itu, sebanyak 2.280 ton beras juga dikirim ke Arab Saudi untuk memenuhi kebutuhan konsumsi jemaah haji 2026.
Di sisi lain, Perum Bulog menyiapkan tambahan kapasitas penyimpanan untuk mengantisipasi peningkatan produksi. Kementerian Keuangan telah menyetujui anggaran Rp5 triliun untuk membangun 100 gudang baru.
Gudang tersebut akan dilengkapi teknologi hasil pengembangan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang memungkinkan beras disimpan hingga dua tahun tanpa fumigasi kimia. “Sehingga beras lebih sehat, higienis, dan layak dikonsumsi,” ujar Direktur Utama Bulog Ahmad Rizal Ramdhani.
Baca Juga: Harga Cabai Hingga Kacang Tanah Melonjak Naik di Pasar Serpong
Sebanyak 100 gudang itu direncanakan dibangun di berbagai wilayah dengan total kapasitas sekitar 900 ribu ton, terdiri dari 52 lokasi di lahan Bulog dan 48 lokasi di lahan hibah pemerintah daerah. Gudang lama juga akan direnovasi secara bertahap dengan teknologi serupa untuk menjaga kualitas dan memastikan ketersediaan beras dalam jangka panjang. (rmg/xan)
